Kamis, 12 September 2013

Dia Semakin Besar & Aku Semakin Kecil (Yohanes 3 : 31 - 36)

Bahan Sermon Parhalado Full Timer HKBP Distrik XVII – IBT Regio Jatim
Nas Ep[istel  : Yohanes 3 :  31 - 36    
---------------------------------------------------------------------------------------

” DIA SEMAKIN BESAR  & aku semakin kecil”

Pendahuluan
Yohanes Pembaptis berbeda dengan Rasul Yohanes yang menulis kitab ini.  Rasul Yohanes adalah saudara Yakobus anak-anak dari Zebedeus. Sementara Yohanes Pembaptis adalah anak dari Imam Zakaria. Yohanes Pembaptis adalah orang yang tak bercacat dan saleh pada zamannya sehingga banyak orang yang datang kepadanya untuk minta petunjuk, nasehat dan bahkan di baptis olehnya. Bahkan ia berani menegor Raja Herodes sang penguasa Yahudi saat itu oleh keberanian inilah ia dipenjara bahkan dipenggal kepalanya oleh Herodes. Tetapi sebelum ia di penjara terjadi pertentangan antara murid Yohanes dengan orang Yahudi yang bermula dari peristiwa dimana Yesus dan murid-muridNya membaptis juga di Yudea dan banyak orang datang kepada Yesus. Seolah-olah ada persaingan yang dirasakan oleh para murid Yohanes, para murid  ingin membela kewibawaan Yohanes (ayat 22-26).

Keterangan Nas
Di dalam nas ini, Yohanes pembaptis bersaksi tentang siapakah dirinya dan siapakah Yesus. Ia mempersaksikan  dirinya sebagai orang yang ditentukan dan dipilih Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan sesorang yang jauh lebih besar darinya, yaitu Mesias yang akan menjadi pembebas dan juruslamat Israel.
Sesudah bersaksi dengan rendah hati dan menyatakan suakcitanya atas perkembangan dari gerakan pengikut jalan Tuhan , Yohanes Pembaptis memberikan kesaksian akan kebesaran Kristus dan berita-Nya yang tidak tertandingi, dan ia mengatakan,
YOHANES 3 : 31
31 “Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya.”

Dengan nas ini, kita bisa melihat bagaimana kesungguhan Yohanes  dan pengenalannya yang baik kepada Yesus. baginya Yesus itu adalah Mahluk Surgawi yang penuh dengan kemuliaan yang datangnya juga bukan dari manusia yang berdosa.  Manusia memiliki sifat duniawi, yang membutuhkan kelahiran baru. Yesus sendiri yang memiliki sifat surgawi, dan menjadi manusia untuk mendekat kepada kita dan menebus kita. Yesus, orang dari Nazaret itu melebihi semua nabi, ahli filsafat dan para pemimpin yang ada, sebagaimana langit lebih tinggi dari bumi. Penemuan manusia memang sangat memukau, tetapi semuanya dibuat dari apa yang diciptakan Allah. Anak adalah hidup dan terang dan alasan dari keberadaan kita. Tidak ada bandingannya antara Dia dengan semua yang lain. Anak berasal dari Bapa sebelum segala jaman. Ia adalah sempurna mengatasi semua makhluk.

YOHANES 3:32-35
32 Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. 33 Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. 34 Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. 35 Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya

Yesus sebagai manusia adalah saksi mata dari kebenaran surgawi. Ia sungguh-sungguh menyaksikan sang Bapa dan mendengarkan firman-Nya. Ia tahu apa pikiran dan rencana-Nya. Ia adalah firman Allah, yang keluar dari sang Bapa. Wahyu-Nya sempurna. Wahyu yang datang melalui para nabi tidak lengkap. Yesus menyatakan kehendak Allah sebagai yang terakhir dan yang lengkap. Ia adalah saksi yang setia, yang menjadi martir untuk kesaksian itu. Ia mempermuliakan sang Bapa, sayangnya, masih banyak orang yang menolak kesaksian-Nya. Mereka tidak menghendaki Allah yang dekat, karena hal itu pasti akan membutuhkan adanya perubahan hidup. Mereka menolak sang Anak dan menyangkal Allah sebagai Bapa.
Puji Tuhan bahwa tidak semua orang membenci Allah dan Roh-Nya. Ada sekelompok orang pilihan yang melihat Bapa di dalam Anak, dan menerima pengorbanan-Nya yang sempurna. Orang yang percaya kepada wahyu dan penebusan-Nya menghormati Allah. Allah tidak pernah berdusta; sang Anak adalah kebenaran. Bapa tidak menyatakan hakekat dari pikiran-Nya di dalam sebuah undang-undang atau sebuah buku, tetapi di dalam pribadi Yesus. Semua orang yang terbuka kepada Roh Kudus dan Firman-Nya akan diperbaharui. Kristus memanggil kita  bukan hanya untuk mengatakan kebenaran, tetapi untuk menghidupi dan melakukannya. Injil-Nya kemudian menjadi tubuh di dalam diri kita.
Yesus tidak berbicara tentang hal-hal khayalan yang tidak memiliki kepastian atau keinginan yang mengada-ada; Firman-Nya adalah sangat kreatif, berkuasa, dan juga jelas. Allah berbicara di dalam Anak-Nya. Roh di dalam diri-Nya sama sekali tidak terbatas. Bapa mencurahkan kepada-Nya semua hikmat dan kedaulatan tanpa ada akhirnya.
Bapa mengasihi Anak, dan menyerahkan kepada-Nya segala sesuatu. Kasih Allah adalah suatu anugerah, dan Anak menghormati sang Bapa. Pertanyaannya bukan, siapakah yang lebih besar, Bapa atau Anak? Pertanyaan yang demikian datangnya dari Iblis. Masing-masing Pribadi di dalam Tritunggal yang Kudus memuliakan yang lainnya dan menghormati yang lainnya. Orang yang mengabaikan prinsip ini sedang mengabaikan Allah. Bapa tidak memiliki rasa takut bahwa sang Anak akan merampas kedaulatan-Nya, karena Allah tahu kelemah-lembutan anak-Nya, ketaatan dan ketundukan penuh-Nya. Yesus menguasai segala sesuatu sebagaimana yang dikatakan-Nya, “Segala kuasa di langit dan di bumi sudah diserahkan kepada-Ku.”

YOHANES 3:36
36 “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”

Yohanes sang penginjil mengajarkan kepada kita rumus tentang keselamatan: Orang yang percaya kepada sang Anak akan memiliki kehidupan kekal. Kalimat yang singkat ini merangkum semua inti Injil. Semua orang yang mendekat kepada kesatuan kasih ini akan melihat di dalamnya kasih Bapa dan Anak, dekat dengan kasih Allah, yang dinyatakan di dalam Kayu Salib. Orang itu bersandar kepada Anak domba Allah karena tahu bahwa Anak domba itu sudah melenyapkan semua kekotoran kita. Dengan hubungan dengan Kristus ini kita mengalami arus kasih karunia-Nya di dalam kasih yang kekal. Iman kepada Anak yang tersalib itu akan memberikan kepada kita kehidupan-Nya yang sejati. Kehidupan kekal tidak dimulai sesudah mati, tetapi sekarang ini. Roh Kudus datang kepada orang-orang percaya kepada sang Anak. Orang yang menolak Firman Kristus dan menolak kedudukan-Nya sebagai Anak dan Kayu Salib, mendukakan Roh Kudus. Ia tidak akan menemukan ketenangan di dalam hati nuraninya. Orang yang tidak tuntuk kepada Yesus melawan Allah sendiri dan tetap berada di dalam kematian rohani. Semua agama yang melawan doktrin tentang Anak dan Kayu Salib sedang melanggar kebenaran Allah. Orang yang menolak kasih-Nya, berarti memilih murka-Nya.
Paulus juga menegaskan pandangan Yohanes: murka Allah dinyatakan terhadap semua pelaku kedurhakaan dan kejahatan. Karena semua manusia sudah melakukan dosa dan melawan kebenaran dengan kelemahan mereka. Sadarilah bahwa murka Allah yang membinasakan, sedang dicurahkan kepada manusia.
Sebagaimana ular tembaga diangkat di padang gurun, demikian juga yang Tersalib sudah menjadi lambang bagi keselamatan kita dari murka Allah. Anak sudah membuka dispensasi dalam kasih karunia. Semua orang yang menjauh dari kasih-karunia-Nya di dalam Kayu Salib secara sengaja, tetap tinggal di dalam penghukuman. Iblis menemukan tempat untuk berpijak di dalam dirinya. Orang-orang yang tidak memiliki Kristus adalah orang-orang celaka. Kapankah kita akan mulai berdoa untuk orang-orang itu, sehingga mereka juga bisa percaya kepada Anak dan diselamatkan? Kapankah kita mulai berbicara kepada sahabat-sahabat kita dengan penuh kesabaran, sehingga mereka juga bisa menerima kehidupan dari Allah dengan perantaraan kesaksian kita?


Renungan
Ketika orang memberikan kesaksian, biasanya yang disampaikan adalah kehebatan dan keberhasilannya sendiri. Orang bersaksi dengan berkata bahwa dia pernah gagal tetapi mampu bangun lagi, pernah sakit keras lalu bisa sembuh, pernah menderita tetapi sekarang berhasil, dan sebagainya. Dalam benaknya yang ada adalah sekarang aku berhasil mengatasi kegagalan, sakit, penderitaan, dan sebagainya. Atau, bisa terjadi bahwa orang memberikan kesaksian dengan menyampaikan kejelekan dan kelemahan orang lain, agar tampak dirinya baik dan hebat. Orang sangat bangga dengan dirinya sehingga menjadi lupa akan campur tangan Allah dan kebaikan orang lain.
Hari ini Yohanes Pembaptis memberikan kesaksian tentang siapa Yesus sebenarnya. Tanpa ragu dia mengatakan bahwa Yesus berasal dari atas dan menjadi utusan Allah, yang menyampaikan firman-Nya dan sangat dikasihi-Nya, sehingga Allah berkenan menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Tampak dengan jelas bahwa ketika menyampaikan kesaksian ini, dia mengatakannya dengan gembira dan yakin akan kehebatan pribadi Yesus dan kebenaran yang harus ditunjukkan. Dia tidak merasa tersaingi atau sakit hati atau marah tetapi justru berkata ”Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (ay 30). Dia sungguh rendah hati dan tulus hati memberikan kesaksian ini. Hebat Yohanes!!!
Apa yang kita lakukan ketika memberikan kesaksian? Apakah kita berani seperti Yohanes, yang dengan ketulusan dan kerendahan hati mengatakan bahwa orang lain itu lebih baik dan lebih hebat? Atau, apakah kita justru meninggikan diri sendiri, sebagai yang baik dan hebat, dengan menjatuhkan nama baik orang lain? Suatu pengalaman iman yang indah dan menarik ketika kita bercermin pada diri Yohanes!!!


         


BERSYUKURLAH UNTUK KESELAMATAN KITA (1 Timoteus 1 : 12 – 17)

Renungan Untuk Cover Warta  :

BERSYUKURLAH UNTUK KESELAMATAN KITA
(1 Timoteus 1 : 12 – 17)

Anugerah (Grace) adalah tema utama Perjanjian Baru dan kunci untuk memahami isi pesan-pesan Perjanjian Baru, karena semua penulis Perjanjian Baru berbicara tentang keselamatan dan selalu menghubungkannya dengan anugerah Allah. Keselamatan kita dari dosa dan murka Allah adalah inisiatif Allah yang murah hati sejak permulaan jaman (2 Tim 1:9). Anugerah inilah yang sesungguhnya sejak dari semula ditawarkan Allah kepada manusia, mula-mula ia menawarkan nya  kepada bangsa-bangsa melalui Abraham, (bnd. Kejadian 12 : 2 – 3),: (12 : 2) Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.(12:3) Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.")
Akan tetapi ,anugerah yang ditawarkan Allah melalui Abraham dan keturunannya ini gagal di dalam memainkan perannya untuk membuka pintu keselamatan bagi bangsa-bangsa, bangsa Israel gagal melihat keselamatan yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Dengan kehadiran Kristus berita Anugerah itu dihidupkan kembali dan mencapai titik kesempurnaannya. Di dalam Dia,  Anugerah Allah menjadi nyata. Perjanjian baru mencatat berita ini : Kita diselamatkan oleh anugerah Allah, bukan oleh usaha kita (Efesus 2:8-9), Anugerah Allah mengajarkan kita untuk mengerjakan keselamatan kita di hadapan Allah dengan cara yang terhormat (Titus 2:11-12). Pujian terhadap anugerah Allah yang berkelimpahan itu adalah tujuan akhir dari keselamatan (Efesus 1:6).

Allah telah menganugerahkan kepada kita keselamatan yang tidak memandang kita akan siapa kita dulu, yang tiak memandang kita atas segala perbuatan dosa dan pelanggaran masa lalu kita. Allah melihat hati kita yang mau menerima anugerah yang ditawarkannya. Allah melihat iman kita yang menyakininya sebagai Anak Allah yanng diutus Bapa untuk misi keselamatan umat manusia. Ia mengasihi kita saat kita masih di dalam keadaan penuh dengan cela dan dosa, bukan di saat kita merasa benar dan merasa telah melakukan amal dan ibadah. Oleh karena itu layaklah kita bersyukur dan memuliakannya. Layaklah kita meninggikannya, layaklah ia menerima hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya.

Ada banyak contoh di dalam Alkitab yang bisa menjadi pedoman dan teladan hidup kita bagaimana kita seharusnya bersyukur buat anugerah Tuhan,  Paulus adalah salah satu tokoh dan pribadi yang ”diperbaharui Tuhan”, pribadi yang paling merasakan anugerah Tuhan di dalam hidupnya. Ia ditangkap Tuhan disaat ia sedang melakukan perbuatan ”dosa” yang besar. Ia menganiaya dan menghujat Tuhan. Namun Tuhan memperbaruhinya dan membuatnya berharga dimataNya. Bukankah hal yang luar biasa bahwa Allah memilih orang Farisi yang paling fanatik ini dan menjadikannya salah satu lambang terbesar akan anugerah? Paulus berkata bahwa Allah telah memilihnya supaya orang-orang dapat belajar melalui dia—ia yang adalah seorang pembunuh dan penganiaya jemaat—mampu diselamatkan Allah, terlebih-lebih kita.
Allah yang menangkap Paulus dan menganugerahkan kepadanya keselamatan, Dia jugalah yang sekarang menyapa kita, ia menangkap kita dan menanugerahkan kepada kita keselamatan. Oleh karena itu selayaknyalah kita bersyukur kepadaNya. Kita dibenarkan hanya karena kasih karuniaNya semata.  Demikianlah  seluruh lidah akan mengaku dan seluruh lutut akan bertelut memuliakan Tuhan atas kasih karunia itu. Amin.  

Pdt.Bernard H. Pasaribu




Ucapan Syukur atas Kasih Karunia Allah (1 Timoteus 1: 12 - 17 )

Bahan Sermon Parhalado Full Timer Distrik XVII IBT REGIO JATIM
Nas  Evangelium : 1 Timoteus 1 :  12 – 17
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“ BERSYUKURLAH ATAS KESELAMATAN KITA ”

Pengantar
Surat 1 Timotius, 2 Timotius, dan Titus biasa disebut sebagai surat pastoral Paulus kepada anak-anak rohaninya, yang ia percayai dan utus untuk menggembalakan jemaat Tuhan di tempat masing-masing. Timotius melayani jemaat di Efesus, sedangkan Titus di pulau Kreta. Dalam surat-surat ini, Paulus menasihati, memberikan instruksi, mewanti-wanti mereka dalam menggembalakan, mengajar, dan mendisiplin jemaat masing-masing.
Latar belakang. Perkenalan Paulus dengan Timotius dicatat di Kis. 16:1-3. Di situ, Timotius muda dipercaya Paulus untuk ikut dalam pelayanan misinya yang kedua (Kis. 15:36-18:22). Melalui pelayanan inilah, Timotius bertumbuh menjadi murid dan anak rohani Paulus. Ada penafsir yang berpendapat bahwa 1 Timotius ditulis Paulus sesudah masa pelayanannya yang dicatat di Kisah Para Rasul. Menurut tradisi, selepas dari pemenjaraan di Roma, Paulus kembali ke Efesus, yang didirikannya pada perjalanan misi ketiga (Kis. 19:1-12) dan beberapa kota lainnya, sebelum pergi ke Spanyol (Roma 15:24). Paulus kemudian mengutus Timotius untuk menjadi gembala di Efesus. Dalam perjalanan misi terakhirnya ini, Paulus menuliskan 1 Timotius ini untuk mendorong dan menguatkan anak rohaninya ini yang rupanya merasa terlalu muda untuk menjadi pemimpin (1Tim. 4:12). Timotius yang muda harus memimpin jemaat di sebuah kota besar seperti Efesus dengan berbagai permasalahannya. Di Efesus terdapat kuil besar tempat penyembahan kepada Dewi Diana, dewi seksual pelindung kaum wanita. Dapat dibayangkan dengan jemaat yang berlatar belakang kekafiran ini, berapa besar godaan moral dan penyimpangan agama yang dihadapi jemaat. Belum lagi ajaran-ajaran agama Yahudi yang masuk bercampur aduk dengan kepercayaan mistis seperti percaya pada dongeng-dongeng, silsilah-silsilah, pantangan makan makanan tertentu, dsb.
Dalam perikop kita ini, kita melihat kasih karunia Allah sebagai salah satu unsure yang sentral dalam surat-surat Pastoral, seperti dalam surat-surat Paulus lainnya

Keterangan Nas
Ayat 12 :  Aku bersyukur kepada Dia – dengan awalan ini, Paulus hendak menyatakan bahwa seluruh keselamatan dan keberhasilan hidupnya berasal dari Kristus. Bukan berdasarkan kekuatannya sendiri, melainkan kassih karunia Kristus yang bekerja dalam hidupnya. Inilah yang dimaksudkan dengan kata-kata Dia yang menguatkan aku.
Karena ia mengganggap aku setia, ini bukan karena penilaian masa lalu Paulus, karena masa lalunya adalaj amat buruk sebagai penganiaya orang kristen, tetapi ini semata-mata karena keputusan Allah yang berdaulat untuk meletakkan kepercayaan itu kepada Paulus tanpa satu kondisi apapun dari pihak Paulus. Allah berkenan memakai Paulus dalam keadaaanya yang lemah untuk menjadi Rasul. (bnd. 1 Korintus 7 : 25)

Ayat 13  : Aku yang tadinya seorang penghujat............
Dengan nas ini ia menyadari bahwa anugerah Tuhan yang begitu besarlah yang mendorong ia selalu mengucap syukur. Ia tahu siapa dirinya, bahwa ia adalah seorang yang tadinya tidak layak untuk menerima anugerah itu. Ia adalah seorang penghujat dan penganiaya. Penghujat berarti orang yang mengatakan hal-hal yang buruk tentang yang suci, hal ini dilakukan Paulus, ketika ia menentang Nama Yesus (Kisah 26 : 9). Dulu ia menghina Kristus. sedangkan ‘penganiaya’ dan ‘orang ganas’  menunjukkan bahwa ia dahulu adalah seorang penganiaya dan bahkan pembunuh orang kristen (bdk. Kis 7:58  8:1a  9:1-2,5,13-14  22:3-5  26:4-12  Fil 3:6).
Ia sadar bahwa ia adalah pendosa, namun ia melakukan itu termasuk di dalam melawan Tuhan Yesus dalam kebutaan rohani, yaitu di luar iman. Kata-kata ‘semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman’ dalam ayat ini menunjukkan bahwa sekalipun Paulus menganiaya dan menghujat, tetapi ia tidak sampai menghujat Roh Kudus (bdk. Mat 12:31-32), karena ia melakukan semua itu tanpa pengetahuan, atau di luar iman.  Dalam kasus Paulus ini, ketika ia melakukan penganiayaan, ia mengira bahwa ia sedang melayani Tuhan (Kis 26:9-10 bdk. Yoh 16:2).

Ayat 14  :  Malah kasih karunia Tuhan kita telah dikaruniakan dengan limpahnya......
Berlimpahnya kasih karunia Allah pada latar belakang banyaknya dosa manusia, adalah pemikiran yang khas dari surat-surat Paulus (Paulinis) (bnd. Roma 5 : 20). Kasih karunia yang besar itu pertama-tama menghasilkan iman (Efesus 2 : 8) ia akan terus menghasilkan buah-buah kebaikan rohani lainnya sebagai karunia-karunia roh (Bnd. 1 Korintus 12 : 31). Kasih karunia yang dari Yesus Kristus itu juga akan mendorong kita untuk mengasihi Allah dan sesama. Pembaharuan ini hanya mungkin terjadi didalam persekutuan dengan Yesus Kristus.

Ayat 15 :  Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa
Nas ini menunjukkan bahwa setiap orang berdosa membutuhkan keselamatan, dan kalau tidak mendapatkannya, mereka akan terhilang / masuk ke neraka selama-lamanya! Nas ini juga secara tidak langsung hendak menyatakan jikalau Yesus tidak datang ke dunia, maka umat manusia tidak akan bisa selamat. Kalau memang sudah ada atau akan ada jalan keselamatan yang lain, apa perlunya Yesus datang ke dalam dunia, menderita dan mati disalib untuk menebus dosa? Hanya untuk memberikan tambahan jalan satu lagi padahal sudah ada banyak jalan? Itu bodoh dan konyol. Yang benar adalah: karena tidak ada jalan untuk selamat, maka Yesus datang ke dalam dunia dan mati disalib untuk menebus dosa, supaya tersedia satu-satunya jalan keselamatan bagi manusia!  Kristus datang untuk menyelamatkan orang berdosa, bukan orang baik (bdk. Mat 9:9-13). Sebetulnya, ditinjau dari standard Allah, yaitu Kitab Suci, tidak ada orang baik (Roma 3:10-12,23). Tetapi ada banyak orang, yang sekalipun berdosa, tetapi tidak merasakan dosa-dosanya. Orang seperti ini tidak bisa diselamatkan (bdk. Luk 18:9-14  Yoh 9:39-41).
Menurut Thomas Carlyle : “The deadliest sins were the consciousness of no sin” (= Dosa yang paling mematikan adalah ketidaksadaran akan adanya dosa) -  ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 605.
Martin Luther: “The recognition of sin is the beginning of salvation” (= Pengenalan akan dosa adalah permulaan / awal keselamatan) -  ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 607.
Kata-kata ‘menyelamatkan orang berdosa’ (bdk. Mat 1:21) mencakup penebusan dan pengampunan dosa, dan juga pembebasan dari perbudakan dosa (Roma 7:24-25  Gal 5:1  Yoh 8:34-36  1Pet 2:24).
Paulus mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang paling berdosa. Paulus mengatakan bahwa dari semua orang berdosa untuk siapa Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan, dia adalah yang terbesar dosanya akan tetapi Sekalipun Paulus begitu jahat ia tetap diselamatkan (ay 13b,15,16a).

Ayat 16 : Keselamatan Paulus adalah contoh keselamatan kita,  Kalau Paulus bisa diselamatkan, kitapun bisa diselamatkan
Ayat ini  menunjukkan bahwa Paulus telah menjadi contoh bahwa orang yang sangat berdosapun bisa diselamatkan asal mau datang kepada Yesus. Kalau orang seperti Paulus yang sudah melakukan “dosa yang sangat besar sekalipun” bisa diselamatkan, maka kita juga bisa, asal kita mau datang kepada Yesus.

Ayat 17  Paulus memuji Tuhan. Ayat ini mengingatkan kita pentingnya memuji Tuhan, karena pada umumnya orang kristen terlalu banyak meminta dan bersungut-sungut, tetapi kurang dalam memuji Tuhan, padahal sudah mendapatkan keselamatan. Marilah kita lebih banyak merenungkan keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita, dan juga ketidak-layakan kita untuk diselamatkan, supaya kita bisa lebih banyak bersyukur dan memuji Tuhan.

Penutup & Aplikasi
1.  Kalau kita merasa bahwa kita belum diselamatkan, mari kita datang kepada Tuhan Yesus. Kalau kita merasa bahwa kita sudah menerima anugerah keselamatan itu, bertumbuhlah didalam kasih karunia Tuhan kita itu dan jangan lagi melakukan dosa-dosa dan pelanggaran yang menyebabkan kita menjadi kembali tercemar. Akan tetapi bertambah sempurnalah didalam pertumbuhan iman kita  supaya hidup dan pelayanan kita bisa lebih menyenangkan dan lebih memuliakan Tuhan.


2. Kita dibenarkan bukan karena segala perbuatan baik kita , bukan pula karena hebatnya segala usaha dan ibadah kita, akan tetapi semata-mata karena anugerah Tuhan. Anugerah ini dicurahkan kepada setiap orang yang mau menerimanya tanpa memandang besar atau kecilnya kesalahan dan pelanggaran kita. Ia menganugerahkan keselamatan itu kepada setiap orang yang membutuhkannya yaitu kepada setiap orang yang mengaku dosa-dosanya dan yang datang memohon pengampunan dari Tuhan. Oleh karena itu layaklah kita mengapresiasi segala kasih karunia ”pengampunan dan penebusan Tuhan ” itu dengan ucapan syukur dan pujian kita.

Senin, 09 September 2013

Perlunya Kerendahan Hati

”PERLUNYA KERENDAHAN HATI”

Rendah hati adalah suatu sikap pribadi yang bersandar pada Allah dan menghormati orang lain. Dengan kata lain, rendah hati berarti menaruh keyakinan pada Allah, bukan pada diri sendiri.

Sifat-sifat kerendahan hati:
1. Miskin di hadapan Allah
Rendah hati bertolak belakang dengan nilai-nilai duniawi yang mengedepankan harga diri dan kesombongan. Orang yang miskin di hadapan Allah menyadari kebutuhan mereka akan Allah, dan mengetahui bahwa mereka tidak perlu membeli kasih-Nya dengan kekayaan, status atau kesempurnaan rohani. Mereka menerima diri mereka dengan segala kekurangannya. Mereka bersandar pada Allah.
 “beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: "Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.” (Yesaya 57 : 15 )

2. Sikap menurut 
Rendah hati sangat berhubungan dengan ketaatan. Rendah hati berarti mengambil peran yang lebih rendah dalam hubungan dengan orang lain. Alkitab menyuruh para istri agar tunduk pada suami masing-masing, dan anak-anak muda kepada yang tua, tetapi ini bukanlah hubungan yang bersikap satu arah. Seperti yang tercatat di
1 Petrus 5:5:   “Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain”.

3. Menyerahkan segala kekuatiran kepada Allah
Rendah hati berarti kita tidak perlu memikul kegelisahan-kegelisahan kita; Allah bersedia mengangkat seluruh kegelisahan kita apabila kita bersedia melakukan apa yang Ia kehendaki.
“Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”  (1 Petrus 5:6-7)

4. Bergembira karena Tuhan dan percaya kepada-Nya
Begitu kita menaruh segala kekuatiran kepada Tuhan, kita dapat bergembira dan percaya kepada-Nya. Dan saat kita bergembira karena Tuhan dan terlebih dahulu mencari kerajaan-Nya, kita tidak lagi hidup bagi diri kita sendiri, tetapi bagi Yesus Kristus. Kita akan menaruh kehendak-Nya di atas kehendak kita sendiri, sehingga yang kita kehendaki adalah kehendak Allah yang terjadi.

“Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.”  (Mazmur 37:3-5)
                 
5. Tidak berpusat pada diri sendiri 
Rendah hati berpusat di luar diri sendiri, sementara kesombongan berpusat pada diri sendiri. Dengan kata lain, kesombongan mencari kepentingan sendiri, tetapi rendah hati mementingkan kepentingan orang lain.

Rendah hati, yang juga berarti “berpikir lebih rendah”, bertolak belakang dengan memuliakan diri sendiri. Tetapi dalam penggunaannya dalam Alkitab, rendah hati tidak memasarkan sikap rendah diri. Rendah hati berarti mengambil peran yang telah Allah siapkan bagi kita dalam kehidupan.

Seseorang yang rendah hati tidak berkata, “aku tidak bisa apa-apa.” Tetapi sebaliknya, ia berkata, “Ini adalah yang Allah kehendaki bagi saya; saya dapat melakukannya melalui Dia” (Flp. 4:13). Belajar rendah hati berarti belajar menerima segala keadaan (Flp. 4:12). Rendah hati tidak ada pada apa yang kita miliki atau capai, tetapi dalam memelihara sikap yang mau diajar, bersedia menuruti kehendak Bapa. 

Belajar rendah hati adalah proses seumur hidup, dan kita dapat mempelajarinya selangkah-langkah. Mari kita berusaha menjadi lebih rendah hati dan membiarkan Allah yang memuliakan kita, bukan berusaha memuliakan diri sendiri. Amin.

Jumat, 30 Agustus 2013

Kemerdekaan Yang Sejati ada di Dalam Tuhan

Bahan Sermon Parhalado HKBP Dukuh Kupang Ressort Surabaya
Rabu , 07 Agustus 2013, Nas : Galatia 5 : 1 – 14   
---------------------------------------------------------------------------------------

”HALUAN NA TUTU IMA DIBAGASAN KRISTUS”

Patujolo
Ia surat  Galatia on ima na sinurathon ni Apostel Paulus, na tinongosna tu Huria Galatia na lagi mengadopi konflik internal.  Marungkil do Apstel Paulus marningot huria i, ala tangkas do diboto apostel Paulus, dimulanai , na porsea do halak Galatia na haporseaon tu Kristus do na tau paluahon nasida. Alai ndung marroan angka halak Yahudi tu Galatia, Lumobi ma muse angka halak Kristen Yahudia na fanatik tu angka aturan Hajahudion. Gabe tubu ma keraguraguan di nasida taringot tu haluaon i. Ai didok angka halak Yahudia do tu nasida, na so singkop dope malua nasida molo holan porsea sambing ingkon unduk do nasida nang tu aturan-aturan habadiaon nang ugamo Yahudi. Ai  naeng do boanon ni Halak Yahudi.angka na porsea i tu Hayahudion. Gabe masa ma parbolatbolatan di huria i, alai deba sian nasida nunga terpengaruh pemahaman ni haYahudion i.
Surat Galatia ditujuhon do laho mangurupi angka na porsea sian haliluonna ala ni angka parpoda haliluon, asa mulak muse nasida manghaporsea i ajaran na sintong i. Dipungka apostel Paulus do suratna i marhite na mandok na apostel ni Kristus i do ibana (on naeng patuduhon legalitasna do songon siboan barita ni Kristus i, ala memang godang do halak na manghasogohon ibana jala berdaya upaya laho manghambat barita nauli na binoanna). Lumobi ma halak Yahudi na dongganna hian hape gabe alona. Tangkas do dipaandar apostel Paulus, ndada tu halak Yahudi ibana ditongos Kristus ialai tu angka halak Non- Yahudia do. Bahkan sahat tu sadarion godang do halak na naeng pasoadahon Apsotel Paulus songon siboan barita na uli taringot tu Kristus. Ai didok angka kelompok penentang Paulus do, ia kekristenan na binoan ni Apostel Paulus ima keKristenan na sesat jala Rekayasa ni jolma.
Paulus memang tidak diteguhkan menjadi rasul oleh rasul-rasul yang lainnay sebagaimana Rasul Matias diteguhkan menggantikan Yudas Iskariot, Paulus juga tidak menjadi murid Yesus ketika Yesus hidup. Bahkan Paulus tidak pernah melihat Yesus dengan mata kepalanya sendiri. Hal inilah yang dipertanyakan oleh orang yang menghasut oleh Paulus. Akan tetapi Alkitab mencatat bahwa Paulus ditangkap oleh Tuhan ketika ia masih bernama Saulus di dalam perjalanan menuju Damaskus, yang membuat ia menjadi sadar bahwa ia telah salah. Ia juga diteguhkan Tuhan sendiri melalui pengalaman spiritualnya, ia menerima penglihatan dan pernyataan dari Tuhan (2 Korintus 12 : 1 – 10) ; Ia juga diterima dan diakui oleh kedua belas rasul lainnya (Galatia 2 : 1 – 10) sebagai orang yang dipilih Tuhan dengan cara yang unik dan diangkat menjadi RasulNya untuk onrang-orang Non Yahudi..

Hatorangan ni Turpuk
Ayat 1 – 4     Dipungka Apostel Paulus do turpuk on taringot tu status Haluaon nasida dibagasan Kristus. Nunga ditobus jala nunga dapotan haluaon nasida sian parhatobanon ni dosa. Nassida nunga gabe orang-orang yang merdeka.  Alai ala ni angka pengaruh ajaran na binoan ni Halak Yahudi, adong ma sian tongatonga nasida na olo  muse mulak unduk tu aturan haYahudiaon jala manghaporseai i na gabe dalan haluaon na sintong. Diahporseai nasida na so singkop molo holan porsea tu Tuhan i, ingkon do unduk tu angka aturan ni patik i. Deba sian aturan i ima, ingkon sunathon do diri. Tangkas do dikritik apostel Paulus na porsea i ala pemahaman nasida na salah. Ai  didok apostel Paulus do  na so adong sada pe sian jolma i na boi mangulahon singkop angka patik i, alani do umbahen na  ringkot haluaon na sian Tuhan marhiteh asi-asiNa. Molo naeng patik i do na diulahon unang ma mardeba-deba, ala molo mardeba-deba do, ndang marguna i jala ndang tuk paluahon, sebalikna gabe patubu daftar angka pelanggaran dohot dosa.

Ayat 5 - 6  , diayat on diulangkon apostel Paulus do , ia haluaonta ima ala ni pasu-pasu ni Debata na nilehonna marhite Kristus Jesus dibagsan haporseaon na pinasupasuhonNa marhite TondiNa, Dibagasan Ibana do hita gabe sintong, ndada ala na mangulahon parsunaton dohot angka aturan haYahudion na marragam i.  Menurut Apostel Paulus, ia hataridaon ni angka na porsea na sintong ndada holan tarida i marhite tampilan parduru alai gumodangan do i sian roha parbagason. Dibagasan Kristus, ndada adong laba ni na marsunat manang so marsunat.  Alai marisuang ma haluaon na binoan ni Kristus i di angka halak na ragu-ragu jala mardua roha, marisuang ma i di angka na mandok ingkon sunathon do diri asa jaloon haluaon dohot pardengganon dohot Debata. Holong dohot Haporseaon na sian Tuhan i  do na paluahon angka na porsea.

Ayat 7 – 12, di angka ayat on, dibangkit apostel paulus do nostalgia haporseaon nasida saleleng on , andorang so dicemari ajaran sesat na binoan ni angka halak Yahudi. Ai “Ragi” do ajaran na binoan ni angka halak Yahudi i tu nasida, na boi manegai roha nasida, alani naeng ma jamot nasida jala unang tariuhut-ihut, unang mura-mura nasida  terpengaruh jala terkontaminasi. Angka halak Yahudi na  mangajarhon poda haliluon i digoari Apostel Paulus  do i sebagai Penghasut manang panggaori, jala ala ni ulaon nasida i,  Debata do muse na manguhum i. Naeng ma nasida dibagasan haporseaon marsiadu hujolo unang be nian mulak-mulak tu pudi, ai i do parsiaduon na denggan. Molo naung porsea nasida na Debata do na mangalehon hasintongan i unang be nasida nian mangasahon pambahenanna (haunduhon di angka patik) molo i do, na marlapatan do i na mengalami kemunduran do nasida disi. Na sintong ingkon lam dihangoluhon nasida ma panobusian dohot haluaon naung pinasupasuhon ni Tuhan i dinasida.

Ayat 13 – 15, di ayat on, sahali nari dipaingot apostel Paulus do nasida, songon naung pinalua ni Kristus i. alani do ndada boa asa dapotan haluaon be na ingkon sipingkiran nasida, alai boa do manghangoluhon haluaon i (jadi bukan persoalan : bagaimana supaya dapat dimerdekakan akan tetapi bagaimana menindaklanjuti (mengisi) kemerdekaan yuang telah dianugerahkan itu). Nunga dipalua hita, alai ndang alani gabe lam marlomo-lomo hita mangula angka ulaonta apalagi ulaon hasibukon. Sebalikna haluaon i naeng ma nian mendorong hita asa lam manghalongi donganta. Tahobasi ma angka donganta na hurangan, tauurupi ma nasida jala tasarihon ma nasida hombar na tuk tarbahen hita. Jala taula ma i saluhutna dibagasan Holong, ala nunga jumolo hita manjalo holong na sian Tuhan i, ndada asa dapotan holong. Alai molo sipata pe adong “angka parsoalan” naeng pintor patupaon pardengganan asa unang sahat tu masilengsean (saling membinasakan).

Aplikasi :
Tung mansai uli do turpuk on , di soarahon di  suasana ”perayaan kemerdekaan” na dipatupa negaranta di ari 17 agustus 2013 on topetma i di ari Sabtu. Songon i do nang disuasana dung perayaan “Hari Kemenangan” ni donganta na marari raya “Idul Ftri”. Ai digoari nasida do i songon Ari Kemenangan, kemenangan dari hawanafsu, kemenangan dari kebutuhan makan dan minum dlsb. Kemenangan-kemenangan nasida i dijalo nasida do atas dasar usaha nasida, ndada songoni haluaon ni angka na porsea tu Kristus. Nasida patupa na denggan, manghorom angka rumar dohot lan na asing asa dapotan haluaon (kemenangan) alai hita angka na porsea, dijou do hita mangulahon na sintong jala tigor, marholong ni roha dohot manghorom ulaon na jat dohot hata na rumar, ndada asa alai ala naung jumolo do hita dipasintong, manang dipatigor Debata
Alani ma songon sada warga negara hita aha do na boi taulahon tu negaranta on laho mangisi kemerdekaan i?
”unang be nian tasungkun aha do naung binahen ni Negara on tu hita alai sebalikna aha do naung tabahen tu negaranta on ?
Songon i do nang taringot tu haporseaonnta. Ndang sungkononta be aha do na ingkon taulahon asa dapotan haluaon i hita, alai naeng do sungkunonta dirinta aha ma na naeng ulahononta songon naung pinaluaNa i hita.
1.   Lam mangodang ma hita di Haporseaonta i, lam tang jala matoras asa unang mura-mura hita dihaliluhon parpoda haliluon.
2.  manatap ma hita tujolo, unang ma sai marnida hupudi, unang sai marningot di angka hahurangan-hahuranganta, alai boa do tu joloan asa rap maju jala berkembang hita.
3.  Kemerdekaan haruslah diisi dengan sikap yang semakin peduli kepada sesama (Galatia 6 : 1 – 15) , peduli kepada kepada kehidupan segala makhluk termasuk hewan dan tumbutumbuhan sehingga tidak muncul sikap yang saling mematikan.
4.  manadinghon ulaon-ulaon haholomon alai sebalikna lam manghangoluhon angka ulaon hasintongan.



Pdt.bernard H. Pasaribu, M.Min








Yesus dan Perempuan Bungkuk di Bait Allah (Lukas 13 : 10 - 17)

Bahan Sermon Parhalado HKBP Dukuh Kupang Ressort Surabaya
Rabu , 15 Agustus 2013, Nas : Lukas 13 : 10 – 17   
---------------------------------------------------------------------------------------

“ YESUS PEDULI AKAN SEGALA SESUATU YANG MEMBUNGKUKKAN KITA”

Pengantar
Kitab Lukas yang ditulis oleh tabib Lukas, rekan sepelayanan Paulus di dalam memberitakan Injil mempunyai kekhususan sendiri dibandingkan dengan kitab-kitab Injil lainnya. Sebagi seorang tabib, Lukas mempunyai ketertarikan khusus terhadap mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus di dalam menyembuhkan berbagai-bagai penyakit tarlumobima tu angka penyakit-penyakit menahun yang tidak dapat disembuhkan oleh para medis ataupun tabib pada jaman itu. Terlebih-lebih karena pada jaman itu ada pemahaman yang mengatakan bahwa penyebab orang itu sakit adalah karena dosa-dosa atau pelanggarannya.

Bagi Lukas, hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan (ilmu kesehatan) adalah sesuatu yang sangat  menarik. Lukas menjelaskan dengan sangat panajng lebar tentang bagaimana kehamilan Maria yang masih Perawan, Lukas juga menjelaskan bagaimana Yesus memyembuhkan dengan berbagai media, Lukas juga menjelaskan bagaimana kematian Yesus dibuktikan dengan keluarnya air dan darah, dan itu semua adalah kebenaran di dalam ilmu kedokteran. Salah satu penyembuhan Yesus akan penyakit menahun yang tidak ada di kitab injil lainnya adalah nas kita ini.

Keterangan nas :
Dalam perikop ini kita membaca, Yesus menyembuhkan seorang wanita yang bungkuk oleh roh Iblis selama 18 tahun. Kita bisa membayangkan bagaimana menderitanya perempuan ini, Satu jam saja kita bungkuk badan terasa pegal, apalagi wanita ini bungkuknya sudah 18 tahun. Tetapi menarik sebab wanita ini hadir dalam kebaktian dimana Yesus hadir. Lukas memang tidak menjelaskan apakah wanita ini memang selalu datang atau datang hanya karena ia mendengat bahwa Yesus sedang datang dan akan mengajat di Bait suci itu. Namun yang pasti wanita ini datang ke rumah Allah dan ingin mendengar Tuhan berfirman. Namun kalau kita memperhatikan reaksi awal perempuan ini, kita bisa membuat sebuah kesimpulan kecil bahwa perempuan ini memang rajin datang ke rumah ibadah itu untuk beribadah dan mendengarkan pengajaran akan Firman Tuhan. Bukan karena semata-mata ia mendengar Yesus datang karena ketika ia datang dan mendengar Yesus mengajar ia tidak langsung berseru-seru untuk meminta agar disembuhkan. Namun ia datang dan mendengarkan pengajaran Yesus. Ia mendengarkan Yesus dan percaya kepadaNya.

Ada beberapa penyebab orang menjadi bungkuk :
Pertama, karena sakit/penyakit. Orang tua biasanya bungkuk karena osteoporosis. Tulang belakang keropos dan tidak mampu menahan tubuhnya. Sebagian lagi karena penyakit kanker menyerang tulang belakangnya sehingga tubuhnya bungkuk, dlsb.
Kedua, orang bisa menjadi bungkuk karena terbiasa dengan sikap tubuhnya yang tidak baik ketika masih anak-anak sehingga ketika dewasa menyebabkan tubuhnya menjadi bungkuk. Karena ketika kecil terbiasa memundak sesuatu (beban-benan yang sangat berat ) yang membuat badannya menjadi bungkuk.
Ketiga, bungkuk dalam arti metafora  karena beban hidup. Masalah yang terlalu berat dalam keluarga atau dalam pekerjaan bisa mengakibatkan hidup terasa sakit bungkuk.
Keempat, bungkuk karena kesibukan atau bisnis. Orang banyak mengejar jabatan dan untung, tetapi setelah mendapat yang diinginkannya menjadi jarang bertemu dengan keluarga. Hari-harinya penuh dengan kesibukan, untuk karir, untuk mencari uang. Kesibukannya menyebabkan dia bungkuk.
Kelima, bungkuk karena dirasuk Iblis, seperti wanita dalam perikop di atas. Ada roh jahat masuk ke dalam tubuhnya, menjadi penyakit, merusakkan organ-organ tertentu dalam tubuhnya sehingga bungkuk.

Mata orang yang bungkuk biasanya lebih banyak mengarah ke tanah. Ia hanya bisa memandanh ke bawah dan kesamping, dan sangat sulit memandang kedepan apalagi ke atas.
Orang Kristen yang bungkuk rohani lebih banyak melihat ke dunia dan jarang melihat ke surga. Jadi, bisa saja kita tidak bungkuk secara fisik tetapi mungkin bungkuk secara rohani, artinya lebih banyak memikirkan perkara dan kekuatiran dunia.

Yesus sangat peduli kepada orang bungkuk :
1.   Yesus melihat. Lukas 13: 12 – “....Yesus melihat perempuan itu..” Yesus melihat dan mengetahui keadaan kita. Waktu kita menderita, Yesus tahu penderitaan kita. Namun wanita itu dilihat Yesus karena ia hadir dalam ibadah. Mata Tuhan selalu tertuju kepada orang yang selalu mencari Tuhan. Oleh karena itu, kalau kita sedang mengalami percobaan atau kesulitan hiduo, banyaklah kita  beribadah dan berdoa. Sebab Yesus melihat hati yang mencari Tuhan.

2.  
Yesus memanggil dan menyatakan kesembuhan. Ayat 12 – “Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: "Hai ibu, penyakitmu telah sembuh." Kalau Yesus memanggil, maka Tuhan memberikan Firman. Firman Tuhan selalu menyembuhkan, menyelamatkan dan memulihkan. Tuhan selalu membangkitkan semangat dan gairah hidup kita. Karena itu kita perlu selalu mendengar suara Tuhan. Setiap Firman Tuhan adalah pesan Tuhan yang spesial bagi hidup kita.

3.  Yesus menjamah. Ayat 13 “Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu”. Banyak cara Yesus menyembuhkan orang banyak. Tetapi yang lebih banyak dilakukan adalah dengan  meletakkan tanganNya pada orang sakit. Kita selalu ingin dijamah dan ditolong Tuhan. Setiap waktu kita membutuhkan jamahan Tuhan, untuk menolong dan menguatkan kita. Tuhan tahu wanita itu menderita selama 18 tahun dan saat itu adalah waktunya Tuhan menjamah dan menyembuhkannnya.

4.   Yesus menyembuhkan/memulihkan. Ayat 13 – “immediately she was made straight”, artinya setelah dijamah, tubuhnya segera menjadi tegak kembali. Setelah 18 tahun bungkuk, waktu Tuhan jamah, tubuhnya menjadi tegak lurus. Ini mujizat Tuhan. Kita perlu mujizat Tuhan setiap hari. Mujizat bukan hanya waktu sakit keras atau masalah berat, tetapi setiap hari. Karena itu setiap hari, setiap pagi, minta belas kasihan dan mujizat Tuhan terjadi dalam hidup kita.

Ketika perempuan itu sembuh, ia memuliakan Allah. Segala pertolongan Tuhan yang kita terima harus disambut dengan kemuliaan bagi Tuhan.
Orang-orang Farisi yang melihat mujizat kesembuhan itu protes. Pertanyaan mereka : kenapa perempuan itu disembuhkan, bahkan tepat pada hari Sabat?
Namun, Yesus menjawabnya dengan menyatakan mengapa Ia peduli dan mau menyembuhkan wanita bungkuk itu.
Lukas 13:16 – “Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?"
Yesus peduli kepada wanita itu sebab ia adalah keturunan Abraham. Galatia 3:8-9. Keturunan Abraham adalah keturunan yang diberkati Tuhan. Tetapi bukan karena kita orang Israel tetapi karena kita orang percaya. Abraham adalah bapa segala orang percaya. Karena kita adalah keturunan atau anak-anak Abraham maka kita berhak menerima berkat janji-janji Tuhan kepada Abraham, yaitu janji berkat, janji keselamatan, janji kemakmuran, janji kesembuhan, dll.
Siapa lagi yang disebut keturunan Abraham? Galatia 3:29. Kalau kita milik Kristus, percaya kepada Kristus, maka kita juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Tuhan. Kita berhak menerima berkat keberhasilan di sekolah, di pekerjaan, di bisnis, dan juga dalam keluarga. Jadi tidak salah kalau kita hidup penuh berkat di dunia ini. Di bumi ini kita menerima berkat sama seperti Abraham diberkati luar biasa dalam hidupnya.
Pengkhotbah 9:9. Nikmatilah hidup di dunia ini bersama Tuhan. Banyak orang menerima banyak berkat tetapi tidak dinikmati.
Orangyang memberikan waktunya untuk bersekutu dengan Tuhan, dengar-dengaran akan Firman Tuhan pasti akan merasakan jamahan Tangan Tuhan yang akan menyembuhkan dan memulihkannya. Jangan habiskan waktu hanya untuk bekerja dan mengumpulkan. Tetapi pakailah juga waktu untuk bersekutu dan bersukacita bersama Tuhan.  Hidup ini harus dinikmati. Jangan kecilkan berkat Tuhan dengan gaya hidup miskin.
Mungkin hari-hari ini kita bungkuk karena kesibukan, karena penyakit, karena percobaan berat, tetapi hari ini kita diingatkan Tuhan untuk tetap setia datang dan mendengarkan Firman Tuhan, Tuhan akan melihat dan memanggil kita datang kepadaNya, ia akan menjamah hidup kita sehingga kita bisa kembali berbahagia dan tegak kembali. Amin. Tuhan memberkati!








Allah Yang Tidak Dikenal (Kisah Para Rasul 17 : 16 - 34)

Bahan Sermon Parhalado HKBP Dukuh Kupang Ressort Surabaya
Rabu , 23  Agustus 2013, Nas : Kisah Oaras Rasul 17 :  22 – 28     
---------------------------------------------------------------------------------------

“TU DEBATA NA SO TINANDA”
(Ulaon NI Apostel 17:16-34)

 PATUJOLO
            Paulus ima sada sian angka Apostel ni Kristus na mansai berpengaruh di Padan Na Imbaru lumobi di perkembangan dan pertumbuhan ni huria na parjolo. Sebagian besar angka surat tongosan na adong di Padan na Imbaru I ima surat na sian Apostel Paulus. Wajar do I tutu, molo taida latar belakang ni Apostel i.  Sada halak na pistar do Ibana jala berpendidikan, dididik do ibana di sada parsikkolaan na di Tarsus  sian tano kilikia dibawah pengasuhan dan ajaran sian sada Guru Besar  (sian golongan Sanhenddrin) na margoar Gamaliel. Borhat sian pendidikan dohot pengalamanna i do tutu umbahen na songoni “luar biasa” apostel i di tingki na mamaritahon barita nauli i. Diantusi ibana do boa cara-car mengkontektuaisasihon barita nauli tu jaman dohot budaya ni  pendengar.

LATAR BELAKANG KEHIDUPAN MASYARAKAT ATENA
            Atena ima sada huta naung tarbarita sian mulana.  Digoari do huta on songon  tu huta ni angka filsuf. isarana Sokrates, Plato, Aristoteles, Zeno, Phytagoras, Heraklitos, Permanindes, Thales,  dohot angka na asing dope. Sehingga tidak salah jika ada yang memberi komentar atau gambaran mengenai kota Atena yaitu sebagai “a great univer-sity city.” Selain terkenal sebagai kota cendikiawan, Atena juga terkenal sebagai rahim tempat lahirnya sebuah sistem yang sangat terkenal dan dipakai oleh banyak negara dalam pemerintahannya sampai sekarang, yaitu demokrasi. Kemajuan berpikir membuat mereka berkeyakinan bahwa semua orang punya pemikiran. Setiap orang berhak mengutarakan pemikiran itu dan setiap orang berhak juga untuk mendengarkannya. Di masa ni Apostel Paulus, huta Atena ima sada bagian na masuk tu imperium Romawi na ditakluhon nasid di taon 146 sM, alani do tong pengaruh romawi tung mansai kental di di huta on.
Hal na menarik na boi jumpang di tingki I pe sian huta Atena on ima songon naung pinaandar ni Apostel Paulus “kota itu penuh dengan patung-patung berhala” (Kis 17:16). Sada indikasi do on na patuduhon ia masyarakat manang penduduk kota Atena ima masyarakat na memiliki tingkat spiritualitas dohot hidup kerohanian na timbo. Pemujaan na pinatupa nasida tu godang dewa-dewa ima sada gombaran pengakuan dohot ketakutan nasida tu ragam ni hagogogon na diluar nasida. Dipatupa nasida langgatan pameleon tu saluhut angka dewa-dewa songoni nang tu “Dewa na so tinanda” (ai tagamon nasida do adong Debata tutu (manang na ise pe i) na so tinanda nasido). Manghirim nasida di pasu-pasu ni angka dewa jala manghirim nasida angka dewa-dewa I paholang nasida sian ragam nib ala dohot bencana.

TU DEBATA NA SO TINANDA
            Kisah Apostel Paulus di huta Atena ima sada kisah na sinurat ni si Lukas na martudu-tudu tu pardalanan na paduahalion ni apostel marbaritahon barita nauli. Ia haroroni ni Apostel i di huta Atena ima ala pangaleleon na binahen ni halak Yahudi  tu tim misi ni Apostel i di huta Tesalonika. Dibaritahon apostel i do barita naulis di Tesalonika, goang do halak na porsea jala mangihuthon “Dalan ni Tuhan” alai sebalikna sogo ma roha ni angka halak Yahudi. Dilele nasida ma si Paulus, dungi bingkas ma si Paulus tu Berea. Di Berea pe adong do na porsea di barita nauli na binoan ni Apostel i dohot angka dongannna si Silas dohot si Timotius. Alai sahat do tong barita i tu angka halak Yahudi na di Tesalonika pola do ro nasida mangalele  apostel i sahat tu Berea. Alai ala dibege Apostel i naung ro angka halak Yahudi i tu Berea laho manangkup laos mamunu ibana, hombar tu  angka saran ni dongganna, bingkas ma ibana muse tu Atena, disi ma Ibana paimahon si Silas dohot si Timotius na manguduti panghobasion marbarita nauli di Berea.

Alkitab mencatat, “Sementara Paulus menantikan mereka di Atena…” (ay. 16a), “mereka” dalam ayat ini mengacu kepada Silas dan Timotius. 
Dalam penantiannya, Paulus melihat bahwa kota Atena dipenuhi dengan patung-patung berhala. On ma na mambahen targitik rohana marhida huta i,  (“he was greatly distressed ” Terjemahan bebasnya adalah “dia mengalami kesusahan atau kesedihan yang sangat mendalam.) Boi dohonon do ia kesedihan na nialamanna ima kesedihan na borhat sian dorongan na positip asi rohana marnida bangso i (halak Atena i) ala ”lilu nasida” manomba godang gana-ganaan, kesedihan na mendorong (disertai hasrat na membara) naeng segera mambaritahon barita haluaon i tu halak Atena.

Songon naung dihasomalhon ibana (laos sada strategi penginjilanna) ima manang tu dia pe ibana mamungka penginjilan, na parjolo na didapothon ibana ima ”parpunguan/parguruan halak Yahudi” songoni do nang di Atena. alai ndada holan i na didapothon ibana, khusus di Atena laho do Ibana tu onan (pasar) ima sada inganan parpunguan ni torop halak laho patupa angka diskusi, pasahat angka hata manang barita na boi diperdebathon. Onan dison ima Agora ( inganan ni angka cerdik cendekiawan laho patoranghon pemahaman ’filosofisna” tu sada-sada hal na imbaru, manang paandarhon ”teori-teori” na baru la layak ditangihon jala dibegehon tu  torop halak. (Sada inganan na gabe wadah argumentasi dan debat para filsuf-silsu dan kaum cerdik cendekiawan).

            Alkitab mencatat bahwa orang-orang yang sering berkumpul disana adalah orang-orang yang berasal dari golongan Epikuros dan Stoa. Orang-orang dari golongan inilah yang sering bertanya jawab dengan Paulus (ay. 18). Mereka menyebut Paulus dengan sebutan ‘si peleter” (sijubajabi). Perlu dipahami bahwa sebutan ini adalah sebuah ejekan mereka terhadap Paulus karena “peleter” berarti orang yang berlagak tahu. Mereka mengatakan bahwa Paulus adalah orang yang meng-ajarkan dewa-dewa asing sebab Paulus mengajarkan tentang Injil Kristus.

Kelompok Epikuros, ima sada kelompok na pinajongjong ni  sahalak na margoar Epikurus na tubu di Samos (341-271 SM). Sahalak filsuf na mangajarhon taringot tu Etika laho mambahen asa dapotan ngolu na sonang. Inti ajaran filososfi ni kelompok epikurus on ima pernyataan na mandok  “ndang adong sian na adong I na ro sian na so adong jala ndang adong sian naung adong I na gabe so adong muse” (“tidak ada sesu-atu pun yang ada yang ditimbulkan oleh sesuatu yang tidak ada dan tidak ada sesuatu yang ada yang kemudian musnah menjadi tidak ada.” ) implikasi haporseaon ni kelompok on ima pemahaman na so manghaporseai na dong do hangoluan dung hamatean. Na so manghaporseai penghakiman akhir. Ai didok nasida do molo naung mate jolma I, ndang aeon ni jolma I be manang aha, nang las ni roha nang panguhuman. Alani do tujuan ni ngolu ima Hedone : ima kondisi dimana ter-cipta harmoni antara tubuh dan jiwa, dimana batin tenang dan tubuh sehat. Hal ini hanya bisa tercapai jika keinginan dipuaskan, sehingga keinginan akan menjadi semakin sedikit dan menuju ketiadaan keingian. Epikurus menambahkan bahwa semakin sedikit keinginan maka akan semakin besar kebahagiaan. Karena kinginannya semua tercapai. Hidup adalah kenikmatan.

Kelompok Stoa,   Didirikan oleh Zeno dari Citium di Siprus (336-264 SM). Ia mengajar di gang di antara tiang-tiang (yun. stoa poikilia) dan dari sinilah asal kata nama golongannya yaitu golongan Stoa.   Pandangannya sangat materialistis, sehingga dia menolak segala sesuatu yang imaterial, yaitu menganggap yang imaterial itu tidak ada. Zeno percaya akan adanya Tuhan, namun dia mengatakan bahwa Tuhan itu adalah bersifat materi. Zeno mengatakan bahwa Tuhan adalah pen-cipta dari alam semesta. Seiring waktu Dia akan terkorupsi dan kondisi ini menyebabkan Dia sudah tidak menjadi Tuhan lagi. Kekuatannya yang besar terserap dalam segalanya. Sehingga, Allah yang material itu identik dengan alam.Menurut Zeno, dunia ini dikuasi oleh logos yaitu akal dan rasio ilahi. Dalam logos inilah terdapat tata tertib dunia, mengatur segala sesuatu pada tujuan, dan segalanya takluk pada hukum logos.    Jiwa adalah sesuatu yang bersifat materi juga bagi Zeno. Inilah yang mendasari dia deng-an mengatakan bahwa jiwa adalah pusat dari tubuh manusia. Jika jiwa mati, maka jiwa akan larut ke dalam jiwa semesta.

Marhite pemaparan ajaran i tangkas ma tutu na sso dihaporseai kelompok filsuf na dua (kelompk filsuf na paling terkenal di tingki i) ima pengajaran taringot tu kehidupan setelah kematian, pengajaran tentang adanya kebangkitan setelah kematian, dan adanya penghakiman setelah kematian.    

Kegiatan tukar pikiran yang sering dilakukan Paulus di agora ternyata membawa dampak dalam kehidupan masyakrat Atena ketika itu. Hal ini terlihat ketika Paulus akhirnya diundang ke Areopagus untuk mempresentasikan pemikiran atau Injil yang disampaikannya (ay. 19). Aeropa-gus adalah sebuah tempat yang disiapkan khusus untuk membicarakan hal-hal penting yang ber-kenaan dengan topik-topik seperti ilmu politik, masalah-masalah sosial, kebudayaan, filsafat,dsb. Tertarik nasida laho pabagashon imformasi na imbaru na binoan ni Apostel Paulus on patuduhon gombaran ni masyarakat Atena na selalu haus akan pengetahuan yang baru. Orang-orang di Atena memang senang dan menghabiskan banyak waktu untuk mende-ngar segala jenis pengajaran yang baru (ay. 20-21). Mereka rela meninggalkan pekerjaan sehari-hari demi mendengar orang memperdebatkan hal-hal baru mengenai filsafat atau ajaran agama tetentu. Konon katanya, dikarenakan “hobi” mereka yang satu ini, pemerintah yang berkuasa atas mereka mengalami kesulitan karena semua kegiatan harus diliburkan jika ada perdebatan di Ar-eopagus, sehingga hal ini membawa dampak pada sektor ekonomi dan tentunya akan merembes pada sektor-sektor yang lain.


Kis 17:23-31 bercerita tentang apologetika Paulus kepada orang-orang di Atena. Dia me-mulai dengan menyanjung orang-orang Atena sebagai orang-orang yang religius (ay. 22). Strategi Paulus berikutnya adalah dia menggunakan salah satu patung atau altar yang terdapat di Atena yang di atasnya bertuliskan “kepada Allah yang tidak dikenal” (ay. 23). Don Richardson me-maparkan penjelasan yang menarik tentang kisah dibalik altar “kepada Allah yang tidak dikenal” ini. Konon katanya dalam peradaban Atena kuno, pernah terjadi wabah penyakit yang sangat dahsyat. Dalam kepercayaan mitologi Atena kuno, ini merupakan sebuah pertanda bahwa para dewa di khayangan sedang marah karena manusia lalai dalam memberi persembahan. Namun mereka sama sekali tidak tahu dewa mana yang sedang marah kepada mereka, sehingga mereka memutuskan untuk memberi persembahan kepada semua dewa yang ada di Atena ketika itu. Se-telah memberikan persembahan, justru yang terjadi adalah yang sebaliknya, wabah penyakit sama sekali tidak berhenti. Hal ini membuat mereka bertanya-tanya, “Dewa mana lagi yang be-lum diberikan persembahan?” Hal ini membuat mereka bertanya kepada peramal (oracle), na-mun tidak satu pun yang tau penyebabnya. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bertanya kepada peramal lain yang berada di Knossos, bernama Epimenides. Ketika mereka menanyakan hal ini kepadanya, Epimenides menjawab,” …..a god whose name is unknown to us…. Keesokan paginya, Epimenides memerintahkan agar disediakan domba untuk dipersembahankan kepada Allah yang tidak dikenal itu. Singkat cerita, wabah itu pun berhenti. Altar itu diberi nama sebutan γνώστ θε sampai ketika paulus datang ke Atena.
            Paulus menggunakan ketidakmampuan orang-orang di Atena untuk mengenal Allah se-bagai jembatan untuk memperkenalkan Allah yang sejati kepada mereka. Paulus setidaknya memberikan empat argumentasi tentang Allah:
»         Allah sebagai pencipta (ay. 24).
»         Allah yang tidak kekurangan apa-apa, sehingga tidak perlu dilayani manusia. (ay. 25).
»         Allah yang dekat dan sebagai penyebab kehidupan (ay. 27-28).
»         Allah bukan materi (ay. 29).
Terlihat jelas gaya Paulus dalam menyebarkan ajarannya sangatlah berbeda jika dia mengajar pada sebuah komunitas yang memiliki latar belakang Yahudi atau torah. Orang Atena sama se-kali tidak memiliki latar belakang ini, sehingga pendekatan yang dilakukan Paulus adalah dengan mengadopsi gaya pemikiran mereka sendiri, yaitu dengan mengutip pandangan mereka tentang yang ilahi (lih. ay. 24-29), yaitu sebagai pencipta dan pemelihara. Untuk menjelaskan ini Paulus mengutip langsung pujangga Yunani yaitu Epimenides dan Aratus yang mengatakan, “Ia tidak jauh dari kita masing-masing.” Paulus menggunakan pendekatannya dengan menggunakan pendekatan commond ground sebagai jembatan agar orang Atena paham dengan apa yang akan dipaparkan oleh Paulus berikutnya. Sampai disini pemberitaan Paulus menjadi sangat menarik.
Namun ketika ia kemudian berbicara tentang Yesus yang mati dan dibangkitkan dari kematian, ketika Paulus mengajarkan ada ada kehidupan setelah kematian dan ada penghakiman setelah kematian. Dua pokok pikiran ini sa-ngat bertentangan dengan konsep pemikiran kaum Epikurus dan Stoa yang sama-sama tidak mempercayai hal itu, yakni adanya kehidupan setelah kematian. Inilah yang membuat orang-orang di Atena memberikan respon negatif (mengejek) terhadap ajaran Paulus dengan meng-atakan, “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu.” (ay. 32). Hanya sedikit orang yang mau percaya kepada ajaran Paulus yaitu Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan me-reka (ay. 33).

APLIKASI DAN PESAN PAULUS BAGI PEMBACA MASA KINI
            Dari kisah perjalan misi kedua Paulus di Atena, yaitu ke kota para intelektual, dimana dia berjuang untuk memberitakan Injil Kristus kepada orang di sana, ada tiga hal yang bisa dipelajari dari teladan Paulus yang bisa diaplikasikan, khususnya bagi playanan kita masa kini dan kehidupan jemaat masa kini.
1.      Senantiasa Beritakan Injil
Paulus tidak pernah berhenti untuk memberitakan Injil walaupun dia sedang dalam pelarian karena dikejar-kejar. Dia memang tidak menantang bahaya karena ia tidak mau mati sia-sia, ia menghindar namun tidak untuk bersembunyi dan berhenti. Ia menghindar dan pergi meninggalkan Tesalonika karena waktunya di tesalonika adalah akan sia-sia dan terbuang sementara jiwanya terancam. Ia pergi ke Berea lalu ke Atena disitu ia bisa berguna dan tetap memberitakan injil Kristus.

2.      Strategi Penginjilan
Kita harus mempunyai startegi di dalam penginjilan. Strategi itu tidak hanya satu dan sering tergantung situasi dan kondisi lingkungan atau masyarakat setempat. Oleh karena itu kita memang harus menjadi orang yang bijaksana dan fleksibel di dalam prinsip (tidak kaku)namun tidak boleh kompormi ke pada ketidak benaran.
            Dari teladan Paulus, bisa dipelajari bahwa strategi penginjilan bukanlah sebuah strategi yang kaku, yang harus terpaku dalam sebuah cara, atau sebah cara baku yang diseragamkan, se-perti yang banyak diajarkan dalam pelatihan-pelatihan penginjilan yaitu penginjilan selalu dimu-lai dengan sebuah pertanyaan, “Kemana Anda setelah mati?” Paulus dengan lihai menggunakan cara yang sangat kontekstual dan yang mudah dimengerti dalam konteks pendengarnya. Sebagai pemberita Injil harus jeli dalam melihat strategi-strategi tertentu yang bisa diterapkan agar pesan itu mudah dicerna dan dimengerti oleh pendengarnya, harus kreatif, inovatif, dan mampu melihat dari banyak perspektif.