Selasa, 29 Juni 2021

Sintua dan Keluarga - Bahan Ajar Marguru Sintua (Calon Sintua) di HKBP  


Seri Pelajaran Untuk Calon Sintua

Oleh : Pdt. Bernard H. Pasaribu, STh, M.Min

 

SINTUA & KELUARGA DI DALAM TUGAS PELAYANANNYA


Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu! (2 Timotius 4:5)

A. PENDAHULUAN
Sintua adalah sebutan untuk seseorang yang menjadi penatua disuatu dedominasi gereja (Lutheran) seperti HKBP, HKI, GKPI, GKPS, khususnya di kalangan masyarakat Batak untuk (Calvinis) gereja BATAK KARO (GBKP) Sintua disebut Pertua. Sintua/Pertua diambil dari serapan kata Presbiteros (orang ang dituakan). Sintua bersama-sama Diaken (Diakon) / Syamas melayani di gereja dengan sedikit perbedaan tugas pelayanan sebagai penilik jemaat. Diaken dari serapan kata Diakonos (Pelayan/Pelayan meja). Didalam Alkitab (bible) kata Pertua/Diaken terdapat pada I Timotius 3 : 1-7. Seorang Sintua dalam gereja harus mampu melayani anggota jemaat gereja dan menjadi panutan. Ia diberi hak untuk memberitakan injil seperti seorang pendeta, akan tetapi dia harus berkumpul dan bermusyawarah dengan sintua lain dalam suatu sesi yang disebut sermon, di mana dibahas tentang apa yang akan dikhotbahkannya dalam suatu kebaktian di gereja.
Peranan dan kedudukan Sintua dalam satu organisasi gereja berbeda dengan yang lain. Setelah diangkat, seorang Sintua dapat ditahbiskan jika tidak ada yang berkeberatan. Rencana pentahbisan akan diumumkan kepada seluruh anggota jemaat 2 pekan sebelumnya. Seorang Sintua yang telah diangkat selama minimal 2 tahun sudah dapat ditahbiskan jika dia bersedia. Jika tidak, maksimal 5 tahun setelah pengangkatan dia sudah harus ditahbiskan. Suatu jemaat menentukan jumlah Sintua yang ada menurut jumlah anggota jemaat yang dilayaninya. Karenanya pemilihan Sintua umumnya dapat diadakan jika telah terjadi pertumbuhan jumlah jemaat, restrukturisasi jemaat, atau karena berkurangnya jumlah sintua.
Seorang Sintua yang belum ditahbiskan berhenti menjadi Sintua jika keluar dari Gereja di mana ia terpilih. Pengecualian terjadi di saat anggota jemaat Gereja tersebut masih menerima yang bersangkutan untuk melayani.

                                          
B. SINTUA DALAM PELAYANAN
Sering kita mendengar perkataan ini: “Gabe Sintua parroha Sintua ma hamu!”, artinya, “Jadilah Sintua/Penatua yang berhati Penatua”. Apa artinya perkataan ini? Perkataan ini mau mengharapkan sesuatu yang baik dari seorang Sintua. Sintua menjadi teladan, tiruan, panutan di tengah keluarga, gereja dan masyarakat. Mengapa perkataan ini sering disampaikan? Karena ternyata di tengah lapangan pelayanan, banyak Sintua yang berhati “tuan”, berhati “penguasa”, berhati “pelawan”, berhati “asusila”, berhati “tidak senonoh” terhadap keluarganya, gerejanya, pendetanya, tetangganya, dan lain-lain. Sintua bukan lagi panutan dan tiruan. Bahkan yang paling ngeri lagi orang menjadi “takut” menjadi Sintua. Dan mereka berkata, ”Lebih baik jadi Jemaat biasa, tetapi berhati Sintua”. Manakah yang lebih baik? Yang lebih baik sebenarnya adalah Sintua yang berhati Sintua. Sintua yang membantu (”mangurupi”) Pendeta.

Untuk dapat melihat sejauh mana peran keluarga Sintua dalam mendukung pelaksanaan tugas hasintuaon di HKBP ini, maka terlebih dahulu kita melihat apa sebenarnya tugas-tugas para Sintua di HKBP dan bagaimakah mereka seharusnya bersikap dan bertingkah laku di dalam pelayanan Jemaat ini. Pelayanan gereja tentu tidak hanya pelayanan Mimbar (khotbah, evanggelisasi ) dan sermonial (Ibadah/sakramen), Penatalayanan Administrasi dan Keuangan/manajemen gereja, tetapi sangat luas dan menyangkut bidang (masalah) Pelayanan Persekutuan (koinonia) jemaat secara kategorial yang berkaitan dengan kehidupan pribadi, keluarga yang terkait dengan kehidupan rohani, mental, sosial-ekonomi, bahkan juga terkait karena masalah budaya - masyarakat dan politik dimana gereja kita berada/sekitar jemaat. Pelayanan gereja juga Menyangkut Pelayanan yang berkaitan dengan Pelayanan Marturia; pekabaran injil ke dalam dan ke luar, musik dan Pelyanan Diakonia Gereja di tengah dunia ini untuk kalangan jemaat itu sendiri dan di luar jemaat juga.

Jemaat hidup dan berada di tengah-tengah dunia; dunia yang terkait dengan kebutuhan fisik (pangan - sandang, papan), kebutuhan sosial (dihargai - dihormati - dikasihi - disayangi) dan kebutuhan rohani (aktualisasi diri, tenang, aman, damai sejahtera). Mau tidak mau jemaat berada dan bahkan mungkin mengalami 4 S (Susah, Sakit, Stress dan Stroke) sebelum Stop.
Gereja dalam tritugas panggilanya sebagai Pelayan/Sintua Gereja kepada “warga jemaat/Gereja”, sebagai Tubuh Kristus (Persekutuan orang percaya), yang melayani (dalam arti teologis); melindungi, menjaga, memelihara, memberi makan, membangun, membina, memberi nilai kwalitas dan kwantitas jemaat secara rohani dan jasmani, sebagaimana Allah menggembalakan umatNya (Maz 23, Yehezkiel 34, Joh 10).

Panggilan gereja (orang percaya/pelayan): seperti yang dipraktekkan Tuhan Yesus Kristus pada masa hidupnya (Yoh 10, Yoh 21:15-17): mengajar, berkhotbah, menyembuhkan, menghibur, melayani, memberi makan, mengunjungi dari desa ke desa, mengunjungi kota ke kota, kunjungan dari rumah ke rumah dan rumah ibadat, mendelegasikan tugas (pemuridan), menasehati dengan berbagai metode dan cara edukatif dan persuasive (teaching, Preaching, konseling dan Healing ).

Pelayan/Sintua Gereja adalah Pelayan (murid-murid/diamanatkan kepada yang diutus) memberlakukan seperti yang dilakukan Yesus. Dasar atau motivasi pelayanan adalah Kasih Allah dan mengasihi manusia. Melakukan tugas dan pelayanan dengan kerendahan hati, tulus dan sukacita, tidak terpaksa/dipaksakan atau dengan motivasi lain (dihormati/dihargai/prestise, dll). Setulus hati mau terpanggil untuk kerajaan/kehendak Allah, sekalipun ada kerikil-kerikil, hambatan, tantangan, cemohan, kritik/celaan yang merendahkan/meremehkan jiwa kita. Ingat motto: Aku PELTU (Pelayan Tuhan) tentu bukan soal harga diri sebagai pejabat, orang terhormat. 


C. TUGAS SINTUA BERDASARKAN ALKITAB

Di dalam Perjanjian Baru tugas penatua dikelompokkan dengan tiga hal:

1.   Melayani secara pastoral, ini mencerminkan situasi awal kehidupan orang Israel sebagai kelompok pengembara sambil membawa ternaknya. Oleh sebab itu gambaran umat sebagai domba dan Allah (serta para pemimpin) sebagai gembala merupakan gambaran yang cukup menonjol dan sekaligus mengungkapkan realita kehidupan yang penuh tantangan sehingga kita memerlukan kepemimpinan yang bersifat sebagai gembala ( Maz 23, Joh 10, Yehezkiel 34 ). Paulus mengatakan kepada para penatua di Efesus: “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan domba, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri” (Kisah Para Rasul 20: 28). Istilah penilik di sini tidak sama dengan memeriksa (inspeksi !) melainkan untuk menekankan pekerjaan yang bersifat menolong atau menyatakan kepedulian terhadap orang yang menderita, yang dilayani/digembalakan.

2.   Memimpin jemaat. Pengertian memimpin disini adalah seperti memimpin (mengepalai) keluarga (oikonomos). Oleh sebab itulah Paulus rnemakai istilah “pengatur rumah Allah” untuk tugas kepemimpinan penatua di jemaat (Titus 1: 7; lihat, 1 Timotius 3: 4-5; 5: 17; 1 Tesalonika 5: 12). Kehidupan jemaat adalah suatu persekutuan yang saling mempedulikan ibarat suatu keluarga, keluarga Allah (familia Dei), di mana ada kepemimpinan yang melayani, yang bertujuan menciptakan kesejahterian semua anggota keluarganya. Dalam konteks lain jemaat sering dilukiskan sebagai tubuh: memiliki banyak anggota tetapi tetap di dalam kesatuan ( Rom 12, I Korintus 12). Oleh karena itu pertumbuhan jemaat akan nampak dan hidup apabila para penetua mempedulikan kehidupan anggota jemaatnya/gereja.

3.   Sebagai penjaga terhadap ajaran yang menyesatkan/ berbagai ajaran sesat, yang menekankan perlunya kita mewaspadai berbagai rupa ajaran yang menyesatkan jemaat. Rasul Paulus mengingatkan para penatua di Efesus untuk berjaga-jaga terhadap ancarnan serigalaserigala ganas. “Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dan antara kamu sendiri akan muncul murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka. Sebab itu berjaga-jagalah (Kisah Para Rasul 20: 29-31). Titus dinasihatkan untuk berpegang. teguh pada ajaran yang sehat agar mampu “meyakinkan penentang-penentangnya” (Titus 1; 10).

 

D. TUGAS SINTUA BERDASARKAN AGENDA HKBP

Ada 7 pokok uraian tugas pokok ”Partohonan Sintua”, yakni: (Agenda HKBP hal. 35) :

1.  Pangula ni huria do Sintua mamatamatahon angka na pinasahat tu nasida dohot mangaramoti parangenasida. Molo diboto nasida, na hurang ture perange ni manang ise, ingkon pinsangonnasida i, manang paboaonnasida tu Guru dohot tu Pandita, asa dipature.

2.  Mandasdas tu parmingguan dohot manangkasi alana umbahen na so ro.

3.  Mandasdas anakboru sikola, asa ondop ro.

4.  Maningkir angka na marsahit jala paturehon na ringkot tu nasida dohot nasa na tarpatupasa, alai na rumingkot, pasingothon Hata ni Debata tu nasida dohot tumangiangkonsa.

5.  Mangapuli angka na marsak, paturehon angka na dangol dohot na pogos.

6.  Mangapuli angka sipelebegu, angka patugamo na asing dohot angka na lilu, asa dohot marsaulihon hangoluan na pinatupa ni Tuhan Jesus.

7.  Mangurupi paturehon angka guguan dohot ulaon na ringkot tu Harajaon ni Debata.

 

Atau :

1.   Sintua adalah pelayan yang menerima tahbisan membantu (mangurupi) Pendeta di dalam jemaat untuk mengamati anggota-anggota jemaat yang dipercayakan kepada mereka dan meneliti perilakunya. Apabila Sintua mengetahui ada Warga Jemaat perangainya kurang baik, maka mereka harus ditegur dan dibimbing agar mereka kembali ke jalan yang benar.

2.   Sintua mengajak anggota jemaat untuk datang beribadah dan meneliti alasan-alasan mengapa mereka tidak datang mengikutinya. (artinya, seorang Sintua harus aktif membuat penelitian terhadap kuantitas dan kualitas ibadah yang dilaksanakan di dalam Gereja dan juga harus aktif meneliti masalah yang dihadapi Gereja dalam menarik kehadiran jemaat dalam beribadah).

3.   Sintua mengajak para anak untuk rajin datang mengikuti ibadah Sekolah Minggu. (artinya, Sintua harus terlibat aktif dalam pelayanan kepada anak-anak Sekolah Minggu, karena Sintua bukan hanya menjadi Sintua bagi orang dewasa saja).

4.   Sintua mengunjungi orang sakit dan memberi bantuan sesuai dengan kemampuannya, namun yang terpenting adalah mengingatkan mereka akan Firman Allah dan mendoakannya.

5.   Sintua menghiburan orang yang berdukacita, menolong orang yang susah dan orang yang miskin (artinya, Sintua harus berperan aktif mengentaskan kemiskinan warga jemaat melalui pendidikan, ketrampilan, dll. Sintua harus mampu menjadi motivator bagi warga jemaat agar warga jemaat mampu keluar dari setiap pergumulan kehidupan jasmani maupun rohaninya).

6.   Sintua membimbing penyembah berhala, orang sesat, supaya turut serta memperoleh hidup dalam Yesus Kristus. (artinya, Sintua memberitaan Firman Allah kepada orang belum percaya dan mengenal Tuhan Yesus semisal: penyembah berhala, orang sesat, supaya turut serta memperoleh hidup dalam Yesus Kristus).

7.   Membantu pengumpulan dana (semisal : Persembahan Bulanan, dan dana-dana lain yang ditetapkan oleh Gereja) dan tugas pelayanan Kerajaan Allah.

 

E. TUGAS-TUGAS SINTUA BERDASARKAN TATA LAKSANA 

a.  Memberitakan Firman Allah dan melaksanakan Pekabaran Injil.

b.  Mengajak warga jemaat di lingkungannya (wiuknya) untuk mengikuti kabaktian dan meneliti serta mempelajari apa sebabnya jika mereka tidak datang dalam kebaktian.

c.  Mendorong agar anak-anak Anggota jemaat di lingkungannya rajin dan setia datang mengikuti kebaktian Sekolah Minggu.

d.  Mengunjungi orang sakit dan menyediakan hal-hal yang dibutuhkan si sakit sesuai dengan kemampuan yang ada, menyampaikan Firman Allah serta mendoakan mereka.

e.  Memberikan penghiburan bagi orang yang berduka dan menolong orang yang kesusahan.

f.  Memberikan bimbingan kepada orang yang belum percaya kepada Kristus agar mereka juga memperoleh anugerah yakni kehidupan kekal yang telah disediakan Yesus.

g.  Mengupayakan pemasukan persembahan bulanan dan kewajiban anggota di lingkungannya demi untuk kepentingan Gereja dan pemberitaan Firman Allah.

h.  Membimbing serta mengajar orang yang sesat agar mereka kembali ke jalan yang benar sesuai dengan kehendak Yesus.

i.   Sebagai Pelayan di jemaat secara umum dan di lingkungannya secara khusus untuk memperhatikan Anggota jemaat jika ada perbuatan serta kelakuan yang menyimpang dari ajaran Firman Tuhan. Jika seorang Sintua mengetahui ada perilaku anggota jemaat yang kurang baik, maka Sintua harus memberi nasehat dan selanjutnya melaporkan kepada Guru jemaat atau Pendeta untuk digembalakan atau diberikan bimbingan.

 

F. TUGAS SINTUA LAINNYA

1.   Sintua harus kebaktian minggu dan kebaktian lainnya.

2.   Mengikuti Perjamuan Kudus. 

3.   Berpakaian rapi di dalam menghadiri setiap ibadah (memakai dasi dan atau jas lengkap dan atau memakai baju resmi lainnya)

4.  Hadir sebelum ibadah dimulai untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang berkaitan dengan ibadah

5.   Menjaga ketertiban ibadah

6.   Memasuki konsistori Gereja sebelum dan sesudah ibadah untuk mengevaluasi pelayanan hari itu

7.   Menghadiri Sermon Sintua untuk mempersiapak pelayanan mingguan

8.   Mempersiapkan ibadah sektor/wyik

9.   Dan lain sebagainya

 

G. PRINSIP-PRINSIP PELAYANAN

Dalam mencapai dan menjalankan tugas-tugas hasintuaon di atas, maka para Sintua HKBP dituntut untuk: 

1.    Menjalankan tugas sesuai dengan fungsinya/tugasnya untuk kelancaran dan kebahagiaan/sukacita orang yang kita layani.

2.   Memberikan/mengorbankan: waktu, tenaga, kemampuan, keahlian-keterampilan secara dinamis-kreatif, tulus, jujur-terpercaya/dipercaya (manegement waktu; keluarga, pekerjaan kantor dan gereja). Sebagaimana yang diungkapkan Yesus Anak manusia datang bukan untuk dilayani tetapi melayani (Mark 10:45). 

3.   Melayani sesuai dengan telenta kita masing-masing (I Pet 4:10). Jadi pelayanan dalam konteks Gereja adalah untuk kemuliaan Allah dan setiap orang percaya dipanggil/terpanggil untuk pelayan/melayani sebagai perpanjangan tangan/kawan/mitra kerja Tuhan ( I Korint 3: 8-9, I Korintus 4:1).

4.   Melayani dengan tulus-ikhlas, tanpa pamrih, bukan supaya dihormati, dihargai, dipuji dan dibilang hebat. Melayani bukan dengan terpaksa/dipaksakan atau untuk kepentingan/keuntungan diri kita tetapi yang dilayani (I Pet 2:21, I Pet 5:1-6). Dipanggil untuk mengikuti jejak Allah memberi pelayanan untuk dan demi kehendak Allah.

 

H. PENTINGNYA SUATU KUNJUNGAN PASTORAL (SEELSORGE)

Tugas seelsorge adalah tugas utama seorang Sintua. Seelsorge adalah pemeliharaan dan pengawasan jiwa atau roh. Inilah tugas Sintua kepada para anggotanya. Tugas yang berat. Sering dalam gereja pemeliharaan dan pengawasan kepada para anggota jemaat kurang memadai. Barangkali sintua senang apabila banyak orang datang ke kebaktiannya, sedangkan bagaimana keadaan rohani orang-orang itu tidak diperhatikan. Ada pula sintua yang sibuk menjaga agar tidak ada seorangpun anggota gerejanya yang sesat terhilang ke kandang orang lain. Ini semua baik, tetapi jangan itu saja! Pemeliharaan dan pengawasan kepada para anggota lebih dari pada ini.

Apakah maksudnya pemeliharaan? Pertama, persekutuan (Kis. 4:23; 2:42; Ibr. 10:24,25). Persekutuan ini bukan melulu dalam kebaktian di gereja, tetapi juga dalam kunjungan, doa, saling menasihati dan saling melayani. Persekutuan jangan sampai mengambil seluruh waktu orang Kristen! Kedua, pengajaran Firman Allah (Kis. 2:42; Ef. 4:12-16). Para anggota jemaat seharusnya sungguh memerhatikan acara Pendalaman Alkitab (Bible Study) di gereja. Ketiga, pelayanan upacara-upacara, yaitu baptisan dan perjamuan Tuhan. Keempat, pelayanan sosial - yang menyangkut kebutuhan jasmani anggota jemaat setempat juga perlu diperhatikan (Lih. Kis 6:1-6).

Kemudian, apakah maksudnya pengawasan? 

a. Pertama, jemaat Kristus adalah jemaat yang suci dan tugas pengawasan jemaat dipercayakan oleh Tuhan kepada jemaat itu sendiri (Matius 18:15-17). Jadi, jemaat setempat mempunyai tanggung jawab untuk mendekati anggotanya yang bersalah. Atau datang kepada anggota yang hampir-hampir jatuh dalam suatu jerat. Dengan mengingat diri sendiri tidak sempurna, dan dengan kasih Tuhan, kita hendaknya menasihati orang itu. "Saudara, kalau seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri (Galatia 6:1,2). Tetapi apa yang sering terjadi dalam gereja bila ada seorang anggotanya yang hidupnya mulai main-main dengan dosa? Bukannya kita datang kepada orang itu langsung untuk menasihati dia, melainkan semua orang di gereja mulai berbisik-bisik satu kepada yang lain mengenai orang itu, tanpa ada seorang pun yang mau menasihati dia. Sebaliknya orang itu malah menjadi bahan pembicaraan semua orang. Ini tidak menolong orang tersebut. Malahan kita justru menjerumuskan dia ke dalam jurang dosa! Betapa sering kita bersalah di hadapan Tuhan dalam masalah ini. 


b. Pengawasan jemaat mempunyai dua tujuan : (a) menyatakan dan mengeluarkan orang yang tidak benar-benar bertobat dan yang hidupnya hanya senang dalam dosa dari persekutuan Kristen/jemaat ( lih. 1 Yohanes 2:19). Dan (b) mengajar orang percaya agar ia sadar dan kembali kepada jalan yang benar.

Bagaimana tugas pengawasan ini dapat dilaksanakan dengan baik? Alkitab memberikan beberapa petunjuk mengenai pelaksana tugas ini: Apabila seorang bersalah, hendaklah ditegor langsung oleh yang mengetahuinya (Matius 18:15-17). Apabila orang itu tidak mau mendengarkan, barulah membawa seorang atau dua orang saksi lain. Apabila ia masih bersikeras dalam dosanya, seluruh jemaat menasihatinya. Apabila tidak berhasil menyadarkan dia, ia perlu dikucilkan. Pendeta/Sintua jemaat setempat wajib mengambil tindakan apabila ada dosa yang nyata dalam jemaat itu (1 Kor. 5:3-7 ). Seorang yang bertobat dari dosanya, wajib diampuni dan disambut lagi (2 Kor. 2:6-11).
Kesalahan dan Pamincangon pada Sintua dapat kita lihat pada, ajaran sesat (Titus 1:13; 3:10). Apabila ada anggota yang terus mengikuti ajaran sesat, misalnya menolak Ketuhanan Yesus dan sebagainya, ia wajib ditegor. Zinah (1 Kor. 5:1-5). Dosa terbuka (1 Tim. 5:20).
Yang paling penting, dalam melaksanakan tugas pengawasan ini, hendaklah jemaat bertindak dengan adil (1 Tim. 5:19), dengan rendah hati 2 Kor. 10:12), dengan lemah lembut (Galatia 6:1), dan dengan kasih (1 Kor. 13:4). Jemaat yang setia dalam semua ini, penyembahan, pemberitaan Injil, dan pemeliharaan serta pengawasan, akan sungguh menjadi jemaat yang memuliakan Tuhan (Efesus 1:12).

I. PERANAN KUNJUNGAN PASTORAL
Kunjungan ke rumah tangga adalah merupakan salah satu usaha untuk mengenal lebih dalam lagi tentang yang berhubungan dengan kehidupan keluarga. Manfaat yang dapat diperoleh dari kunjungan:

a.  Membina hubungan yang lebih erat antara Sintua dan jemaat secara pribadi.

b.  Sintua dapat mengenal keluarga dan kehidupan/suasana kehidupan keluarga jemaat.

c.  Sintua dapat mengetahui sekaligus menolong menyelesaikan persoalan - persoalan yang dihadapi jemaat.

d.  Sintua dapat mengevaluasi hasil pelayanannya yang telah diterima warga jemaat dalam kehidupannya sehari-hari.

e.  Kunjungan ke rumah tangga dapat menjadi pelengkap dan penguat pelayanan Sintua kepada jemaat.

f.  Untuk menanamkan keyakinan pada keluarga/jemaat bahwa Sintua turut bertanggung jawab terhadap perkembangan kehidupan jemaat secara keseluruhan.

g.  Sintua dapat membina kerjasama yang baik dengan keluarga/jemaat dalam proses pembinaan kerohanian jemaat.


Mengingat ada tujuan yang penting yang harus dicapai dalam acara kunjungan tersebut maka perlu diperhatikan bahwa kunjungan pun harus dipersiapkan dengan baik, misalny: mencari tahu lebih dulu sehubungan dengan karakter keluarga yang akan dikunjungi, membuat persiapan / perencanaan kunjungan sesuai dengan karakter keluarga yang berhubungan dengan: penetapan waktu kunjungan yang tepat, penetapan petugas kunjungan yang dapat diterima (sesuai dengan karakter keluarga), menjaga penampilan yang sopan dan berkenan bagi keluarga yang dikunjungi, mempersiapkan penggunaan bahasa komunikasi yang baik dsb. 
Sudah saatnya kita para Sintua di HKBP kembali menghidupkan pelayanan ini jika kita mau ada kemajuan dan perubahan dalam pelayanan kita di HKBP ini. Memang sulit bagi kita, namun jika meminta dan memohon kekuatan kepada Kristus, maka segalanya akan dapat kita jalani dengan baik.

J. ETIKA PELAYANAN GEREJA
Dalam tugas pelayanannya setiap hari setiap pelayan dituntut memiliki etika pelayanan. Etika pelayanan yang dimaksudkan mengacu pewujudnyataan pelaksanaan Tri Tugas panggilan Gereja. Harus kita akui sering sekali para pelayan gerejawi tidak mengetahui batasan tugas dan tanggungjawabnya secara baik dan benar. Jadi jabatan satu-satunya dalam Gereja adalah pelayanan (Mrk.10:45; Yoh.3:16). 


K. PERAN KELUARGA SINTUA DI HKBP
Dengan melihat banyaknya tugas-tugas para Sintua HKBP di atas, maka dukungan keluarga sangat dibutuhkan. Secara kemanusiawian, para Sintua HKBP mungkin tidak sanggup menjalankan tugas-tugas tohonan hasintuaon itu. Namun, harus kita ingat bahwa dari kita yang dituntut kemauan bukan kemampuan. Jika kita mau, maka Tuhan akan memampukan kita melakukan tugas-tugas hasintuaon itu.


Dukungan apakah yang harus diberikan oleh keluarga kepada suami/istrinya yang menjadi Sintua di HKBP?

Ada banyak hal yang bisa dikerjakan oleh keluarga Sintua dalam rangka menopang dan mendukung suami/istrinya yang menjadi Sintua di HKBP.

a.  Mendoakan suami/istrinya ketika pergi menjalankan tugas pelayanan yang mulia itu.

b.  Mengingatkan suami/istrinya dalam tugas pelayanannya.

c.  Mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas pelayanan suami/istrinya ketika suami/istrinya mau melaksanakan tugas pelayanan mulia itu.

d.  Memberikan dana yang dibutuhkan suami/istrinya ketika pergi menjalankan tugas pelayanan mulia itu.

e.  Merelakan suami/istrinya ketika pergi menjalankan tugas pelayanan mulia itu.

f.  Mendampingi suami/istri dalam melaksanakan tugas pelayanan mulia itu, semisal: bersama-sama pergi ke partangiangan wilayan/wyik.

g.  Aktif mengikuti dan memasuki organisasi dan kegiatan kategorial.

h.  Tidak cemburu jika suami/istrinya bertemu dengan warga jemaat

i.  Tidak banyak menuntut dan tidak mengharapkan balas jasa dalam tugas pelayanan suami/istrinya.

j.  Menjadi teladan di tengah keluarga dan Gereja.

k.  Dan lain sebagainya.

 

Apa kendala bagi keluarga di dalam mendukung pelayanan hasintuaon di HKBP? Terkadang harus diakui bahwa seringkali para keluarga tidak mau mendukung suami/istrinya dalam tugas pelayanan ini, adalah karena "merasa malu“. Mengapa merasa malu? Karena suami/istrinya tidak berlaku sesuai dengan yang dituntut oleh tohonan yang melekat pada diri suami/istrinya itu. Tidak jarang kita lihat sekarang, Sintua itu sudah menjadi "Sintua Hari Minggu”, “Sintua Dua Jaman”, “Sintua Parsermon saja”, “Sintua Pangalo ni Pandita”, “Sintua Parmitu”, “Sintua Parbada”, “Sintua Pemalas”, “Sintua Sigurgak Ulu, Sigurbak Ateate, Sigurbak Butuha”, Sialo / Paroaroa Uluan ala ambisi jadi Uluan dan lain-lain. 


Bagaimana mungkin lagi keluarga kita mau mendukung kita dalam melaksanakan tugas pelayanan itu di tengah Gereja dan masyarakat. Pasti keluarga kita “merasa malu” melihat dirinya sendiri, keluarganya sendiri, dan bahka melihat jemaatnya sendiri. Karena sudah terlanjur suami/istrinya jadi Sintua HKBP, ya… mau tidak mau ditahankan ajalah. Coba kita bayangkan, jika kita menjadi Sintua yang benar-benar Sintua, saya yakin tidak seorang pun keluarga kita tidak mendukung kita dalam tugas pelayanan itu.


Bagaimakah caranya agar keluarga kita dapat mendukung kita? Jawabannya, “JADILAH SINTUA HKBP YANG BAIK DAN TELADAN!”. Menjadi Sintua yang baik memang tidak mudah. Tetapi bukan berarti tidak bisa kita kerjakan. Ingatlah selalu berkat tahbisan yang disampaikan Tuhan kepada kita saat menerima tahbisan/tohonan hasintuaon itu yang berkata: “Tuhan Allah Bapa dan Anak-Nya Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus memberkatii engkau dan memberi hikmat kepadamu untuk menghayati dan melaksanakan dengan setia tahbisan Penatua/Sintua yang diserahkan pada Saudara hari ini agar Allah dipermuliakan di tengah-tengah Jemaat ini.Amin”. Agar menjadi Sintua yang baik, maka kita harus menghayati dan melaksanakan dengan setia tahbisan itu.
Terakhir, mengapa keluarga dituntut mendukung tugas panggilan hasintuaon suami/istrinya? Karena dalam mengemban tugas hasintuaon itu, keluarga juga terlibat dan ikut menerima tohonan/tahbisan itu. Hal ini terlihat pada saat Sintua tersebut menerima tahbisan Sintua, maka keluarga juga ikut berdiri di belakang suami/istrinya. Berdiri di belakang suami/istrinya, itu berarti dia ikut bersama suami/istrinya ikut menerima tugas panggilan itu dan bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Seperti kata orang bijak,”Jika Sintua suami/istri  niba, ingkon gabe dohot do iba gabe Sintua”.
Alai ndang na gabe Sintua na mandapot tohonan Sintua, manang mangantoi aha diula Sintua di parsermonan laho manghobasi ulaon dihuria i. Manang ndang ingkon dohot dirapot ni Sintua i.


Rabu, 29 April 2020

Ibadah Pemberangkatan Ujian Akhir

IBADAH PEMBERANGKATAN UJIAN AKHIR SEKOLAH DAN UJIAN  NASIONAL


1.      Panggilan Beribadah (P : Pemimpin ;  J : Jemaat)
P    :  Ibadah kita ini dialaskan di dalam nama Allah Bapa, Allah yang empunya kuasa dan hikmat yang melampaui segala akal, yang menciptakan segalanya dengan hikmatnya dan yang menjadi sumber berkat bagi semua ciptaannya. ”Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang yang bodoh  menghina hikmad dan didikan”. Tuhanlah sumber hikmat, didikan dan pengetahuan maka datanglah kepada Dia.
J    :  TUHAN memanggil dan mengumpulkan kita dalam ibadah pada saat ini. Oleh karena itu marilah bersukacita dan bersorak-sorai sebab kasih setia-Nya masih memelihara kehidupan kita.
P    :  Biarlah seluruh makhluk memuliakan nama TUHAN. Pujian dan ucapan syukur dipersembahkan hanya kepada TUHAN. Kami mengaku bahwa hanya Engkaulah, ya TUHAN, sumber pencipta kami dan pemelihara kehidupan seluruh makhluk.
J    :  Bersorak-sorailah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah. Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.
P    :  Kemuliaan bagi nama TUHAN. Penghiburan dan keselamatan ada pada-Nya. Kami datang dan mempersiapkan hati dan pikiran kami kepada-Mu, ya TUHAN dan bersukacita memuji dan memuliakan Engkau.

2.      Bernyanyi  KJ. No 355 : 1 – 2  “Yesus Memanggil”
Yesus memanggil mari seg’gra,  Ikutlah jalan selamat baka
Jangan sesat dengar sabda-Nya  Hai marilah seg’ra
Reff    : Sungguh nanti kita kan senang  Bebas dosa hatipun tentram
              Bersama Yesus dalam terang di rumah yang kekal   (jemaat berdiri)
Hai marilah kecil dan besar,  Biar hatimu girang benar
Pilihlah Yesus jangan gentar ,Hai mari datanglah,   Reff : Sungguh...

3.   Votum-Introitus
P    :  Di dalam nama Allah Bapa dan nama Anak-Nya Yesus Kristus dan Roh Kudus yang menciptakan langit dan bumi.
J    :   Amin
P    :  Bersukacitalah karena TUHAN, maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang di inginkan hatimu.
J    :  Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, maka Ia akan bertindak.
P    :  Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah dalam pengharapan sambil berusaha. Sebab TUHAN tidak akan meninggalkan orang-orang yang berkenan kepada-Nya.
J    :  Terpujilah Engkau TUHAN, sejak dahulu, sekarang dan selama-lamanya.
P    :  Marilah kita berdoa: Ya TUHAN, Bapa kami yang di sorga, kami memohon kepada-Mu agar Engkau membimbing kami ketika kami berjalan melewati hari-hari kami yang Engkau sediakan bagi kami. berilah Roh-Mu yang kudus kedalam hati kami agar pengharapan kami tidak sia-sia di dalam Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin. (Jemaat duduk kembali)

4.      Bernyanyi KJ no 33 : 1 ” Suaramu Kudengar”
   Suara-Mu kudengar memanggil diriku
   Supaya ku di Golgata dibasuh darah-Mu
   Reff    :   Aku datanglah Tuhan pada-Mu,  Dalam darah-Mu kudus sucikan diriku

5.   Renungan Situasional
P    : Waktu terus berlalu, hari demi hari telah kami lalui dalam hidup ini. Berbagai peristiwa telah kami alami dan berbagai tantangan akan kami lalui. Sebentar lagi juga kami akan menghadapi ujian akhir yang merupakan tantangan yang berat bagi kami.  Namun kami yakin bahwa jika hanya karena kekuatan kami sendiri, kami akan jatuh tetapi karena Engkau senantiasa menemani kami, maka keberhasilan akan dapat kami raih
J    :  ya  TUHAN, kuatkanlah kami oleh karena kasih setia-Mu
P    :  Seperti seseorang dihibur ibunya, demikianlah engkau menghibur kami. Namun kami sering lupa akan kehadiran-Mu, kami diselimuti oleh kesibukan-kesibukan, kami dikuasai oleh rencana-rencana serta target sehingga kami tidak mampu lagi merasakan kasih-Mu. Akhirnya kami terjebak dalam rutinitas dan formalitas yang membuat kami jenuh, bosan dan frustasi dan lari dari kenyataan. Oleh karena itu kami mohon TUHAN.
J    :  Ya TUHAN, kuatkanlah kami oleh karena kasih setiamu.
P    : Terpujilah Engkau ya TUHAN dan kami bersyukur kepadamu, karena Engkau menghantarkan kami dengan damai di dalam kasih setia-Mu yang tiada berkesudahan. Kami akan berangkat dengan sukacita menghadapi ujian. Kuatkanlah hati, jiwaraga, pikiran dan segenap akal budi kami serta hantarkanlah kami dengan kuasa Roh Kudus-Mu.
J    :   Ya Tuhan, kuatkanlah kami untuk tetap setia dalam panggilan-Mu.
P    :   Berilah kami hikmat, pengertian dan kebijaksanaan. Sehingga apa yang kami pelajari selama ini tidak sia-sia tetapi berkenan di hadapan-Mu
J    :   Ya TUHAN, kuatkanlah kami untuk tetap setia dalam panggilan-Mu.
P    : Terimalah puji-pujian, doa, ucapan syukur dan seluruh kehidupan kami untuk memuliakan nama-Mu, sekarang dan sampai selama-lama-Nya. Amin.

6. Bernyanyi : KJ. 407 :1 + 4
            Tuhan kau Gembala kami tuntun kami domba-Mu
            Bri’lah kami menikmati hikmat pengorbanan-Mu
            Tuhan Yesus Juru selamat kami ini milik-Mu )2x
                         Kehendak-Mu kami cari ingin turut maksud-Mu
                         Tuhan isi hati kami dengan kasih-Mu penuh
             Tuhan Yesus Juru Selamat tak terhingga kasih-Mu ) 2x
            
7.   Khotbah  : Filipi 4 : 6   
                             
8.   Bernyanyi KJ no.26 : 1
Mampirlah dengar doa-Ku Yesus penebus
Orang lain Kau hampiri jangan jalan terus
Reff   :  Yesus Tuhan dengar doaku  Orang lain Kau hampiri, jangan jalan t’rus

9.   Doa Syafaat

10. Bernyanyi. KJ. No.40:2 + 3 (Sambil mengumpulkan persembahan)
            Hai bangkit bagi Yesus dengar panggilan-Nya
            Hadapilah tantangan harinya inilah
            Dan biar tak terbilang, pasukan kuasa g’lap
            Semakin berbahaya semakin kau tegap
                        Hai bangkit bagi Yesus mohon kuasa-Nya
                        Tenaga mu sendiri tentu tak cukuplah
                        Kenakan perlengkapan senjata Roh Kudus
                        Berjaga dan berdoa bersiaplah terus.

11. Litani Pemberangkatan Ujian
P    :   Apakah yang engkau harapkan, untuk dilakukan Tuhan bagimu ?
J   :     Ya Tuhan Allah kami, kami anak-anakMu yang akan menghadapi Ujian Akhir  Sekolah  dan Ujian Nasional pada waktu dekat ini, datang memohon kasih dan penyertaanMu. Berkatilah kami dalam segala persiapan yang sedang kami lakukan dan ajarilah kami pada waktu ujian.
P    :   Permintaan apa lagikah yang kalian inginkan dari Tuhan untuk dikerjakan ?
J   :    Ya Tuhan Allah kami, kami memohon kepadaMu dengan penuh kerendahan hati,  tenangkanlah jiwa, pikiran dan raga kami. Jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan  yang tidak berkenan kepadaMu, yaitu dari perilaku curang, menyontek dan lain-lain. Kiranya kami dapat menerima dan mensyukuri hasil dari kerja keras dan iman kami.
P    :    Percayalah kepada Tuhan Allahmu dengan sepenuh hatimu, dan serahkanlah jalan hidup serta pikiranmu kepadaNya, supaya Ia bekerja atasmu.
         Marilah kita berdoa : Ya Tuhan Allah , Allah yang Maha Besar dan Maha Kudus, anak-anakMu yang akan UAS dan UN datang memohon kepadaNya.  KepadaMulah kami menyerahkan mereka, karena Engkaulah yang empunya mereka, berkatillah dan kuatkanlah mereka dalam menghadapi ujian ini. Dengankanlah ya Tuhan doa dan permohonan kami yang kami panjatkanini  didalam nama AnakMu Tuhan Jesus Kristus, Tuhanami.
P   :     Mari kita besama-sama memohon dan menyempurnakan ibadah kita di dalam Doa Bapa kami…
               
12. Berkat dan Amin (3x)

SELAMAT MENGIKUTI UJIAN NASIONAL
Fillipi 4: 6
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga
Tetapi nyatakanlah dalam segala hal
Keinginanmu kepada Allah
Dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur

Don't worry about anything, but in all your prayers ask God for what you
need, always asking him with a thankful heart.

Tuhan Memberkati

Tata Ibadah Pasahat Sipanganan Tu Natuatua (Manulangi)


KEBAKTIAN PASAHAT SIPANGANON TU NATUATUA
(MANULANGI)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

01. Marende : BE No. 223 HUSOMBA HO TUHAN BL.180
1.   Husomba Ho Tuhan tangihon au.   SangkapMu ma tongtong pasaut tu au
      Lam ganda baenon ni i, holong ni rohangki.  Sai lam gandai holong tu Ho
3.   Di na targogot au hansit huae.  Ho na mangapul au tu Ho au lao
      Haposanki do Ho, Ho Sipangolu do, Sai lam tambai holong tu Ho

02. Votum  - Tangiang Pamuhai
       P   :  Marhitehite Goar ni debata Ama dohot Goar ni AnakNa Tuhan Jesus       Kristus dohot   Goar ni Tondi Porbadia
       J    :  Amen
       P   :  Ingkon pasangaphonmu natorasmu, asa leleng ho mangolu di tano ,      na nilehon ni Jahowa Debatam tu ho.
       J  :   Hamu angka anak, oloi hamu ma angka natuatuamuna dibagasan        Tuhan i, ai ido na tigor.       
      P    :  ”Pasangap amangmu dohot inangmu! Jala : hoholongi ma donganmu     songon dirim”  Haleluya.
      P    :  Martangiang ma hita......................

03. Marende sian BE. 464. Logu. 313 : 1 “HUBOAN MA DIRINGKU”
 1.   Huboan ma diringku, Tuhan, hibul tu Ho. Ai au do tinobusMu,
      Umbaen tarbaen au ro. Pagalak ma rohangku, dison managam, au
      Tondi Mi ma suru, na boi manggomgom au.

04.  Manjaha hata ni Debata :  1 Musa 27 : 1 - 4
       P    :  Jadi dung lam matua si Isak, rambon na matana, gabe dijou ma si       Esau, anakna sihahaan i, ninna ma mandok ibana: Ale amang! Dison     do ahu, ninna mangalusi ibana.
       J    :  Dung i ninna si Isak ma: Ida ma, nunga matua ahu, ndang huboto        ari     hamamatengku.
       P   :   On pe, buat ma ulaulam, parnangkatanmu dohot siormu, jala laho        ma ho tu harangan,  buru ma di ahu sada juhut ramba.
       J    :  Jala pauli di ahu tipak sipanganon lomo ni rohangki, dung i boan tu      ahu, asa hupangan, asa dipasupasu tondingku ho, tagan so mate          dope ahu.
       P   :  Ima sahatna, Martua ma na tumangihon Hata ni Debata jala na     umpeopsa. Amin.

05. Marende : B.E.  449 : 1. ”SAI SOLHOT TU SILANGMI.”

      1.   Sai solhot tu silangMi, Jesus Ingananku.
            Mual na mabaor disi, I ma I nu mon ku
            SilangMi, Tuhanki I ma pujionku,
            Paima sogot sahat au, I endehononku,

06. Tangiang Pangondianon Sian Hula-hula

07. Marende  B.E No. 213 DUNG SONANG ROHANGKU BL. 115
      1.   Dung sonang rohangku dibaen Jesus i Porsuk pe hutaon dison
            Na pos do rohangku di Tuhanta i Dipasonang tongtong rohangkon
            Sonang do, sonang do Dipasonang tongtong rohangkon

      4.   Mangolu nang mate di Jesus do au Ibana haporusanki
            HataNa sambing do partogi di au Ai na tau haposanku do i
            Sonang do, sonang do Dipasonang tongtong rohangkon

08.  Renungan :

09. Marende : B.E No. 207 : 1 – 3 SAI TIOP MA TANGANKU BL. 150
                                                                               (Papungu Pelean)
1.   Sai tiop ma tanganku Sai togu au, Paima tos hosangku Ramoti au
      Ndang olo au mardalan sasada au.  Sai Ho ma ale Tuhan Manogu au.

2.   Baluti ma rohangku Na marsak i, Tu asi ni rohaMu Na godang i
      Sai sesa ma dosangku Asa tongtong.   Guru di Ho rohangku Tu jolo on.

3.   Ianggo hasusaan godang do i,   Alai pangkilalaan sonang do i
      Na tiur do rohangku Nang pe holom.  Niida ni matangku Di tano on.
        
10. Doa Penutup – Tangiang Alemanami